Rabu, 29 Juni 2022

Ahli Sleep Disorders: Sering Bergadang Bisa Memicu Penyakit Bahkan Kematian

Laporan oleh Billy Patoppoi
Bagikan
Ilustrasi bekerja sampai malam hari. Foto: Pixabay

Belajar dengan ‘sistem kebut semalam’ atau rutinitas bekerja shift malam bisa membuat orang memiliki kebiasaan melek malam alias bergadang.

Walau tujuannya baik, kebiasaan bergadang bisa menimbulkan dampak buruk pada tubuh. Stroke adalah satunya, seperti gadis asal Pemalang, Jawa Tengah, yang viral beberapa waktu lalu.

Wardah Rahmatul Islamiyah Ahli Sleep Disorders Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK Unair) mengungkapkan, irama jam tidur terbentuk dari pola asuh sedari kecil.

Pola tidur larut malam menjadi salah satu penyebab kebiasaan bergadang.

“Irama tubuh orang yang bergadang beda dengan orang pada umumnya. Bergadang itu intinya melawan jam tubuhnya. Rata-rata orang mulai mengantuk dan tidur pukul sembilan malam,” ujarnya keterangan yang diterima suarasurabaya.net, Jumat (24/6/2022).

Dosen FK Unair itu menjelaskan, rasa mengantuk disebabkan hormon melatonin yang banyak diproduksi secara alamiah oleh tubuh waktu cahaya gelap.

“Biasanya mulai muncul (hormon melatonin) dari Magrib. Kemudian akan memuncak sekitar jam sembilan, sepuluhan. Lalu, pada pukul dua akan mulai menurun. Otomatis itu,” tambahnya.

Dokter Wardah menyebutkan, adanya cahaya membuat melatonin tidak terproduksi. Hal itu meningkatkan risiko terjadinya insomnia kronik di masa tua.

Lebih lanjut, konsumsi makanan waktu bergadang juga membuat organ pencernaan yang seharusnya beristirahat, jadi tetap bekerja.

Sehingga, kebiasaan tersebut bisa meningkatkan risiko obesitas, diabetes, dan asam lambung (GERD).

“Sekarang itu banyak anak muda yang terkena GERD. Salah satunya, disebabkan oleh bergadang,” tutur dokter saraf Rumah Sakit Universitas Airlangga tersebut.

Bergadang, lanjut Dokter Wardah, membuat seseorang kehilangan kebutuhan tidurnya. Efeknya, selain menyebabkan mengantuk juga memicu penurunan kinerja seseorang waktu pagi.

“Kalau kinerjanya menurun, akhirnya dia akan punya kebiasaan minum kopi. Kopi tentu saja dengan segala plus minusnya, kalau dalam jumlah yang banyak akan berefek meningkatkan tensi dan penyakit jantung,” jelasnya.

Kemudian, bergadang otomatis membuat seseorang lebih banyak beraktivitas pada malam hari, mulai dari belajar, bekerja, olahraga, bahkan sekadar menonton dan bermain.

Kebiasaan tersebut membuat hormon kortisol yang seharusnya rendah pada malam hari secara otomatis meningkat.

“Orang yang kortisolnya tinggi akan mudah stres dan depresi. Keesokan paginya dia baper. Mudah marah, moodnya gak stabil. Apalagi dia main game online ya, menang jadi lebih excited. Kalah pun dia marah,” ungkapnya.

Kortisol yang meningkat, menurut Dokter Wardah, memicu denyut jantung meningkat, serta dapat menyebabkan hipertensi (tekanan darah tinggi).

“Kortisol meningkat, ditambah dengan ngopi, ngemil, ngerokok. Nah, itu yang meningkatkan banyak kejadian serangan stroke dan jantung saat bangun tidur pagi, atau sudden death,” pungkasnya. (bil/rid)

Berita Terkait

Surabaya
Rabu, 29 Juni 2022
25o
Kurs