Senin, 30 Januari 2023

Jatim Peringkat Dua di Peksiminas 2022, Mahasiswi Unesa Sumbang ‘Marsinah Menggugat’

Laporan oleh Ika Suryani Syarief
Bagikan
Monolog Marsinah Menggugat yang dibawakan oleh Nabila Permatasari Mahasiswa Pendidikan Sendratasik Fakultas Bahasa dan Seni Unesa yang berhasil meraih juara 1 Lomba Monolog, di UB Malang pada akhir Oktober 2022. Foto: Humas Unesa

Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas) dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) menyelenggarakan Pekan Seni Mahasiswa Nasional (Peksiminas) XVI 2022 di Universitas Brawijaya pada 25-28 Oktober 2022, yang memperlombakan 15 tangkai lomba dan diikuti oleh 828 peserta dari 123 perguruan tinggi se-Indonesia.

Berdasarkan hasil kompetisi tersebut, Jawa Timur berhasil menduduki peringkat ke-2, di bawah Jawa Tengah dan di atas Yogyakarta, di mana prestasi tersebut di antaranya disumbang oleh sejumlah mahasiswa Universitas Negeri Surabaya (Unesa) yang memperoleh juara di sejumlah tangkai lomba.

Nabila Permatasari Mahasiswa Pendidikan Sendratasik Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Unesa berhasil meraih juara 1 Lomba Monolog dari hasil seleksi yang diikutinya melalui Teater Sendratasik Komunitas Kegiatan Mahasiswa.

Nabila Permatasari Mahasiswa Pendidikan Sendratasik Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Unesa berhasil meraih juara 1 Lomba Monolog, Malang, Oktober 2022. Foto: Humas Unesa

Berawal dari seleksi kampus, kemudian mewakili Unesa untuk seleksi daerah yang membawanya berhasil pada tingkat nasional dan menorehkan catatan bagus di kompetisi tersebut.

“Sejak SMA, memang sudah aktif bermain teater, bahkan juga ikut bergabung ke salah satu sanggar. Setelah lulus SMA, lalu masuk kuliah di jurusan Sendratasik Unesa untuk mengembangkan bakat,” tuturnya pada keterangan pers yang diterima suarsurabaya.net, Selasa (1/11/2022).

Ia juga mengatakan bahwa sebelumnya harus mencari banyak ide dan referensi terkait tokoh yang akan dijadikan monolog, dan memutuskan untuk mengusung ‘Marsinah Menggugat’, hingga menyusun detail kalimat yang ingin dibawakan.

“Setiap hari, saya menonton video tentang Marsinah, baik berupa film atau video dokumenter. Tentu hasil ini karena bimbingan Dr. Welly Suryandoko, S.Pd., M.Pd,” paparnya.

Menurutnya, bagian yang sulit dari pembawaan monolog itu terletak pada hal yang harus diperhatikan, yakni ciri-ciri fisik tokoh hingga gestur tubuh, yang memang sedapat mungkin pembawaa tokohnya harus mirip dengan yang asli.

Nabila mengucapkan banyak terima kasih kepada Unesa yang telah mewadahi dan mendukungnya untuk mengembangkan passion lewat berbagai lomba.

“Semoga ini bisa menjadi motivasi untuk terus meraih prestasi di lomba-lomba berikutnya,” pugkasnya.(rum/ipg)

Berita Terkait