Minggu, 14 Agustus 2022

Kolaborasi Mahasiwa Lintas Jurusan Unipa Pamer Karya Bertema Nusantara

Laporan oleh Retha Yuniar
Bagikan
Seorang mahasiswi Unipa Surabaya memamerkan kostum bertema Putri Aji Bidara Putih, dalam Gelar Cipta Karya Mahasiswa yang diadakan di hall Tunjungan Plaza 3, Sabtu (25/6/2022). Foto: Retha Yuniar suarasurabaya.net

Universitas PGRI Adi Buana (Unipa) Surabaya hadirkan konsep kearifan lokal pada setiap karya kolaborasi pameran mahasiswa tata busana, tata boga, dan tata rias dalam Gelar Cipta Karya Mahasiswa yang diadakan di hall Tunjungan Plaza 3, Sabtu (25/6/2022)

“Total 126 mahasiswa kami dari tata busana, tata boga, dan tata rias. Ketiganya berkolaborasi untuk mewujudkan satu tema karya dari wilayah tertentu di Nusantara,” ujar Agus Ridwan Kepala Program Studi Program Vokasional Kesejahteraan Keluarga, pada suarasurabaya.net di sela-sela kegiatan.

Mengusung konsep budaya dan kekayaan kuliner Nusantara, pameran ini merupakan gelaran pertama pasca pandemi yang ditampilkan secara terbuka di khalayak ramai.

“Sengaja ditampilkan di muka umum, untuk memperkenalkan karya-karya mahasiswa Unipa dan ikut mempromosikan karya mereka di depan umum,” imbuhnya.

Seorang mahasiswi Unipa Surabaya memamerkan kostum dan makanan bertema Roro Jongrang, dalam Gelar Cipta Karya Mahasiswa yang diadakan di hall Tunjungan Plaza 3, Sabtu (25/6/2022). Foto: Retha Yuniar suarasurabaya.net

Perhelatan ini memamerkan karya mahasiswa semester akhir Unipa Surabaya, sebagai salah satu persyaratan kelulusan mereka, selain dari pengerjaan skripsi.

Desain konstum yang diangkat sangat beragam. Mulai dari yang bertema Reog, Merak, Nyi Larung, Mpu Bahula, Calon Arang dan masih banyak lagi.

Selain itu, para mahasiswa semester akhir tersebut tak hanya menyajikan sebuah design karya, tapi juga menggali dan menceritakan kembali sejarah kebudayaan dari masing-masing tema yang diusungnya.

“Kami mengajak masyarakat untuk menikmati karya sekaligus berjalan-jalan dan kembali mengingat tentang cerita-cerita kebudayaan yang mengakar dan mewarnai perjalanan bangsa kita,” tambah Agus Ridwan.

Sementara itu, Yunia Dwi Susanti salah satu desainer yang berkolaborasi dengan Maulidatul hasanah selaku make up artist memilih mengusung tema Reog, untuk mendukung salah satu budaya asal Ponorogo tersebut, segera di akui sebagai salah satu warisan budaya tak benda oleh Unesco (Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa).

“Kami bertiga sepakat mengusung Reog. Selain tertarik karena keunikannya dari keterpaduan hewan merak dan Singa. Kita juga mendukungnya untuk segera diakui Unesco,” ujar Yunia Dwi Susanti.

Selain itu, Javier Farras selaku perwakilan Mahasiswa Tata Boga dalam tim Reog memilih kudapan gethuk untuk melengkapi perjalanan di Reog di atas catwalk. “Gethuk juga saya sajikan berwarna-warni berbentuk miniatur reog. Jadi semakin in line ketika dipertinjukkan,” ujar Javier. (tha/bil/iss)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Langir Sore di Grand Pakuwon

Suatu Sore di Sembayat Gresik

Sore yang Macet di Raya Nginden

Peserta Pawai Taaruf YPM Sidoarjo di Sepanjang

Surabaya
Minggu, 14 Agustus 2022
30o
Kurs