Sabtu, 20 Agustus 2022

SMKN 3 Kediri Tawarkan Solusi untuk Reduce Limbah Industri

Laporan oleh Restu Indah
Bagikan
Eddy Priyo Utomo Kepala Sekolah SMKN 3 bersama Guru dan Siswa Pengrajin Ecoprint (18/3/2022) Foto : tim suarasurabaya.net

Dunia fesyen terus berkembang dinamis seiring waktu. Inovasi dan terobosan terus dilakukan untuk menjaga eksistensi Industri fesyen. Aneka motif dan bahan tersedia dalam banyak opsi dan pilihan.

SMKN 3 Kediri Jatim menawarkan konsep yang agak berbeda. Mengusung konsep ramah lingkungan dan etnik, sekolah kejuruan ini mengajarkan eksplorasi pembuatan ecoprint pada siswa-siswanya.

“Pembuatan kain ini semuanya dari bahan alam. Warnanya berasal dari akar mengkudu, kulit pohon dan karat besi. Seni nya saat memainkan kadar dan komposisi”, papar Sri Rejeki Ketua Jurusan Tata Busana SMKN 3 Kediri pada suarasurabaya.net saat HUT kedua Etnura di Hotel Shangri-La Surabaya, Jumat (18/3/2022)

Sebagai bentuk kekhawatiran dan kritik terselubung pada limbah industri, kata Sri, sekolah ini ingin dunia fesyen lebih ramah alam. Data secara global menunjukkan bahwa dihasilkan limbah tekstil sebanyak 92 ton per tahun.

“Kita ingin dorong industri fesyen yang ramah lingkungan. Ini (ecoprint) sudah kita lakukan sejak Desember 2021”, papar Eddy Priyo Utomo Kepala Sekolah SMKN 3 Kediri.

Selain ramah lingkungan, SMKN 3 juga menawarkan kesan eksklusifitas. Semua karya bersifat unik dan limited edition alias tidak ada duanya, karena tidak akan ada karya yang sama.

“Selain kita buat eksklusif. Kita juga ingin merekam dan mengenalkan daun-daun khas Kediri lewat motif daun yang kita lekatkan pada kain,” imbuh Eddy.

Sri Rejeki menerangkan, jenis daun yang digunakan dalam karya tekstil yang dipamerkan ada dari daun jati, daun lanang, daun belimbing, daun jambu, daun lotes, daun jarak, daun kelor dan daun kenikir.

“Hasil menggunakan daun jati sangat bagus karena daun itu bisa mengeluarkan warnanya sendiri. Tidak semua daun bisa,” terang Sri Rejeki.

Karya ini dijual dengan kisaran harga Rp 200 ribu hingga Rp. 300 ribu.

“Melalui event ini(Fashion Festival HUT Etnura Kedua), kami ingin berterimakasih pada Etnura dan berharap produk kami bisa dikenal dan dijual ke pangsa pasar Jawa Timur”, ungkap Eddy.

Sri Rejeki juga mengajarkan pada para siswa untuk memanfaatkan sisa kain perca untuk dijadikan masker dan pouch agar tidak terbuang sia-sia.(tim)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Langit Sore di Grand Pakuwon

Suatu Sore di Sembayat Gresik

Sore yang Macet di Raya Nginden

Peserta Pawai Taaruf YPM Sidoarjo di Sepanjang

Surabaya
Sabtu, 20 Agustus 2022
30o
Kurs