Jumat, 12 Agustus 2022

Thrifting Makin Digemari, Tingkatkan Brand Awareness dan Kurangi Limbah Fesyen

Laporan oleh Ika Suryani Syarief
Bagikan
Sebanyak 95 stan Thrifting ramaikan gelaran Dorkas Fest yang digelar 8-17 April, Sabtu (9/4/2022). Foto: tim redaksi suarasurabaya.net

Tren belanja pakaian bekas (Thrifting) saat ini makin digemari kalangan penyuka retro dan vintage, juga mulai diminati beragam segmen pasar. Hal itu terlihat dari tingginya antusias masyarakat menghadiri gelaran Dodolan Barang Bekas (Dorkas) Fest yang digelar pada 8 sampai 17 April di Jatim Expo Surabaya.

“Kalo dulu belum banyak orang tau apa itu thrifting. Paling cuma kalangan anak muda yang paham,” kata Tyo, pemilik sekaligus inisiator Dorkas Fest kepada suarasurabaya.net, Sabtu (9/4/2022).

Minatnya pada barang bermerek impor, mengantarkan Tyo pada bisnis jual beli barang bekas yang menurutnya akhir-akhir ini mulai digemari berbagai segmen.

“Kalo dulu segmen thrifting mungkin untuk anak muda usia 20-35 tahun. Sekarang bisa dilihat, peminatnya itu ada bapak-bapak, ibu-ibu yang berarti memang semakin luas. Bahkan merambah kalangan menengah ke atas,” ungkapnya.

Tyo menyampaikan, Dorkas Fest sendiri diikuti oleh 95 tenant dari berbagai kota. Selain untuk meningkatkan profit penjualan offline rekan-rekan sesama thrift store pascapandemi, gelaran juga ini bermaksud mengedukasi masyarakat tentang brand awareness dan kesadaran lingkungan atas dampak limbah fesyen.

“Dengan dijual kembali, barang-barang bekas ini kan jadi punya fungsi. Dengan harga terjangkau dan kondisi yang bagus, orang pasti mikir dua kali buat beli baru,” tuturnya.

Dengan budaya thrifting, menurut Tyo, masyarakat bisa menikmati pakaian brand ternama dengan harga yang ramah di kantong.

“Sekarang semakin banyak thrift store, orang-orang sudah mulai teredukasi dengan brand, ” imbuhnya.

Selain itu, tren thrifting juga diharapkan mampu mendorong mengurangi limbah fesyen.

United Nations Climate Change mengemukakan, bahwa industri fesyen menyumbang sekitar 10 persen emisi gas rumah kaca global karena rantai pasokan yang panjang dan produksi energi yang intensif.

Industri ini, mengkonsumsi lebih banyak energi daripada gabungan industri penerbangan dan perkapalan. Secara kumulatif, industri fesyen menghasilkan sekitar 20 persen air limbah global.

Selain itu, 85 persen tekstil berakhir di tempat pembuangan sampah atau dibakar, ketika sebagian besar bahan tersebut dapat digunakan kembali.

Saat ini, konsumen relatif hati-hati dalam membeli barang bekas via online. Maka dari itu, menurut Tyo, penjualan offline semacam ini di Jatim Expo akan menumbuhkan brand awareness untuk teman-teman thrift store lainnya.

“Kalau offline kan orang-orang punya experience langsung sama barangnya. Tahu langsung kualitas, ukuran dan warnanya,” pungkas Tyo. (tha/bil/iss)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Langir Sore di Grand Pakuwon

Suatu Sore di Sembayat Gresik

Sore yang Macet di Raya Nginden

Peserta Pawai Taaruf YPM Sidoarjo di Sepanjang

Surabaya
Jumat, 12 Agustus 2022
25o
Kurs