Hidung tersumbat, batuk, dan demam yang meningkat sering kali mengganggu tidur, padahal tubuh seharusnya beristirahat.
Ternyata, fenomena ini bukan kebetulan—ritme biologis tubuh, hormon, dan posisi tidur semuanya berperan dalam memperparah gejala pilek di malam hari.
Dilansir dari laman Health pada Sabtu (29/11/2025), berikut sejumlah alasan ilmiah di balik fenomena ini:
1. Sistem Kekebalan Tubuh Lebih Aktif di Malam Hari
Ritme sirkadian atau jam biologis tubuh mengatur aktivitas sistem kekebalan. Di malam hari, sel-sel imun bekerja lebih keras melawan infeksi dengan memicu peradangan.
Peningkatan peradangan ini memicu gejala pilek, seperti hidung tersumbat dan batuk, yang kerap terasa lebih berat saat Anda mencoba tidur. Aktivitas sel imun bahkan mencapai puncaknya pada dini hari.
2. Kadar Kortisol Turun
Kortisol, hormon yang membantu mengendalikan peradangan, secara alami menurun di malam hari. Meski penurunan ini membantu tubuh rileks, efek sampingnya adalah peradangan meningkat, membuat gejala pilek terasa lebih parah.
Penurunan kortisol juga dapat memicu demam naik di malam hari, sehingga kenyamanan tidur berkurang.
3. Lendir Menumpuk saat Berbaring
Posisi tidur memengaruhi gejala pilek. Berbaring memungkinkan lendir dan cairan sinus terkumpul di belakang tenggorokan, memperparah batuk serta memicu nyeri sinus dan sakit kepala.
Solusinya, cobalah tidur dengan kepala lebih tinggi menggunakan satu atau dua bantal tambahan.
4. Lebih Sedikit Gangguan di Malam Hari
Siang hari, aktivitas dan kesibukan membuat Anda kurang menyadari gejala pilek. Malam hari, ketika tubuh beristirahat, rasa tidak nyaman dan demam lebih terasa, sehingga tidur terganggu.
Penelitian menunjukkan bahwa fokus berlebihan pada ketidaknyamanan justru bisa memperburuk persepsi gejala. (saf/faz)
NOW ON AIR SSFM 100
