Sabtu, 17 Januari 2026

Cegah Superflu, Dokter Ingatkan Pola Hidup Bersih dan Sehat Plus Vaksinasi

Laporan oleh Lea Citra Santi Baneza
Bagikan
Ilustrasi. Vaksinasi. Foto: Freepik

Kasus superflu kembali menyita perhatian publik setelah seorang pasien dengan komorbid meninggal dunia di Bandung. Terkait hal ini, Budi Gunadi Sadikin Menteri Kesehatan Republik Indonesia dalam konferensi pers yang digelar pada Senin (12/1),  sudah menjelaskan, penyebab utama kematian pasien tidak murni akibat serangan virus, melainkan adanya penyakit penyerta atau komorbid.

Tapi apakah penyakit ini bisa dianggap remeh dan bagaimana cara mengantisipasinya?

dr. Ari Baskoro, pengajar Divisi Alergi-Imunologi Klinik, Departemen/KSM Ilmu Penyakit Dalam FK Unair Surabaya menyoroti kasus kematian pertama superflu atau Influenza A (H3n2) Subclade K. Katanya kasus kematian di Bandung mesti jadi pelajaran berharga.

Secara umum, penyakit musiman itu tidak berbahaya dan dapat sembuh dengan sendirinya (self-limiting disease). Ketika imunitas berfungsi optimal, virus mampu dieliminasi.

Tapi sebaliknya saat sistem imunitas terganggu virus mudah berkembang. Komorbid yang tadinya tenang, berpotensi memberat dan berisiko mengancam jiwa.

“Lansia di atas 65 tahun dan balita harus harus lebih waspada. Kalau lansia sistem imunitasnya mengalami kemunduran fungsi, sistem imunitas balita justru belum mencapai perkembangan yang sempurna,” ujarnya melalui keterangan tertulis, Sabtu (17/1/2026).

Langkah-langkah pencegahan penyakit mesti jadi perhatian masyarakat. Prinsipnya sama dengan Covid-19, masyarakat diminta hidup bersih dan sehat (PHBS) dengan vaksinasi. Ini jadi modal terbaik mencegah superflu.

Vaksinasi bertujuan meningkatkan imunitas tubuh. Dua minggu pascavaksinasi, sistem imun lebih terlatih dan kompeten. Antibodi yang dihasilkannya, mampu menanggulangi ancaman virus influenza.

Superflu telah menyebar di 80 negara termasuk Indonesia, dan diprediksi melandai hingga Februari 2026. Namun berdasarkan pola epidemiologi, Unair menyarankan pemerintah mempertimbangkan kebijakan vaksinasi pada calon jamaah haji, sesuai indikasi.

Sementara itu, Pemerintah Provinsi Jawa Timur sudah mengeluarkan Surat Kewaspadaan Penyakit Influenza A (H3n2) Subclade K pada 7 Januari 2026. Beberapa hal yang perlu diketahui masyarakat adalah gejala dan cara penularannya.

Adapun gejala yang biasa muncul adalah:

1. Demam tinggi dengan suhu tubuh mencapai 39-41 derajat celsius.
2. Nyeri otot dan sendi hebat, disertai rasa lemas yang signifikan.
3. Sakit kepala berat yang intens dan menetap, mampu mengganggu konsentrasi dan aktivitas sehari-hari.
4. Gangguan saluran pernapasan yang ditandai nyeri tenggorokan yang terasa tajam saat batuk kering, tanda ini berlangsung terus-menerus.

Beberapa jalur utama penularannya adalah interaksi antarmanusia, aktivitas sehari-hari, paparan terhadap lingkungan dan benda sekitas pasien. Perlu diperhatikan, influenza bisa menular melalui percikan udara (droplet), kontak langsung dan kontak tidak langsung. (lea/iss)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Kebakaran Rumah di Pengampon Surabaya

Banjir Menggenangi Sidosermo 4

Kecelakaan Bus Vs Truk Gandeng di Jembatan Suramadu

Surabaya
Sabtu, 17 Januari 2026
31o
Kurs