Senin, 30 Maret 2026

Dokter Ingatkan Bahaya Memaksakan Diri Olahraga Usai Puasa

Laporan oleh Muhammad Syafaruddin
Bagikan
Ilustrasi olahraga di gym. Foto: iStock

Selama sebulan menjalani puasa, sebagian orang memilih mengurangi aktivitas fisik agar energi tidak cepat terkuras, termasuk berolahraga. Setelah bulan puasa usai, mereka mulai kembali menjalani aktivitas seperti biasa, termasuk rutin berolahraga.

Namun, memaksakan diri untuk berolahraga setelah menjalani ibadah puasa juga tidak sepenuhnya baik untuk tubuh.

Menurut dokter Antonius Andi Kurniawan spesialis kedokteran olahraga, terdapat risiko yang berbahaya bagi kesehatan tubuh saat memaksakan diri kembali ke rutinitas awal.

“Memaksakan diri kembali ke porsi normal atau lebih tinggi secara mendadak meningkatkan risiko mulai dari cedera sampai terkena sindrom overtraining,” kata Andi dilansir dari Antara pada Senin (30/3/2026).

Andi menyarankan agar masyarakat dapat menaikkan beban atau durasi latihan secara bertahap untuk mengembalikan kemampuan tubuhnya.

Jika memaksakan diri, maka terdapat kemungkinan risiko tubuh mengalami cedera Muskuloskeletal seperti strain otot, sprain ligamen, atau tendinitis akibat beban yang melebihi kapasitas adaptasi jaringan saat itu.

Risiko berikutnya yakni Delayed Onset Muscle Soreness (DOMS) eksperimental yang sangat hebat, bisa berupa nyeri atau kaku dan mengganggu aktivitas fisik harian.

Pada kondisi lain, individu juga bisa terkena Rhabdomyolysis atau kerusakan otot yang ekstrem yang melepaskan mioglobin ke dalam darah, yang berisiko merusak ginjal.

“Meskipun jarang, ini bisa terjadi pada aktivitas berlebih tanpa hidrasi cukup,” ujar Andi.

Dokter yang praktik di Rumah Sakit Pondok Indah-Bintaro Jaya itu turut membeberkan risiko lainnya adalah mengalami sindrom overtraining atau kelelahan kronis yang memicu gangguan tidur dan penurunan imunitas tubuh.

Maka dari itu, Andi menganjurkan agar melakukan olahraga dengan bertahap diikuti dengan pengaturan nutrisi serta konsumsi protein yang stabil.

“Kembalilah ke pola makan gizi seimbang. Fokus pada karbohidrat kompleks sebagai sumber energi utama untuk mengisi kembali simpanan glikogen otot yang digunakan saat latihan,” kata dia.

Mengutip pedoman International Society of Sports Nutrition (ISSN), Andi mengatakan bagi individu yang aktif berolahraga, kebutuhan protein berkisar antara 1,6 hingga 2,2 gram per kg berat badan per hari.

“Apakah harus lebih banyak? Tidak harus lebih banyak dari standar atlet/individu aktif biasanya, namun yang terpenting adalah distribusi protein. Disarankan mengonsumsi 20–40 gram protein berkualitas tinggi setiap 3–4 jam untuk memaksimalkan sintesis protein otot (Muscle Protein Synthesis),” tandasnya. (ant/ily/saf/ipg)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Kebakaran Rusunawa Sombo Surabaya

Kebakaran Rumah di Pengampon Surabaya

Banjir Menggenangi Sidosermo 4

Surabaya
Senin, 30 Maret 2026
26o
Kurs