Beberapa aktivitas yang disarankan antara lain berjalan kaki, naik tangga, dan latihan beban. Latihan tersebut dapat dikombinasikan dengan olahraga fleksibilitas untuk membantu menjaga keseimbangan dan kemampuan bergerak.
Namun, bagi penderita osteoporosis, jenis dan intensitas latihan harus disesuaikan dengan kondisi masing-masing agar tidak meningkatkan risiko cedera.
“Selain itu penting untuk mengombinasikan olahraga fleksibilitas untuk mencegah risiko jatuh. Bagi pasien osteoporosis, latihan juga harus tetap dilakukan, tetapi jenis dan intensitasnya harus disesuaikan dengan kondisi pasien serta dilakukan secara aman dan terstruktur karena risiko patah tulangnya lebih tinggi,” kata Bernadette.
Menjelang Hari Osteoporosis Sedunia yang diperingati setiap 20 Oktober, Wijaya mengajak masyarakat lebih memperhatikan kesehatan tulang dengan mengenali faktor risiko, menjalani pemeriksaan sesuai kebutuhan, dan berkonsultasi dengan dokter.
“Dalam momentum hari osteoporosis sedunia yang diperingati setiap 20 Oktober, kami mengajak masyarakat untuk lebih memperhatikan kesehatan tulang melalui evaluasi faktor risiko, pemeriksaan medis sesuai indikasi, serta konsultasi dengan dokter spesialis,” katanya. (ant/bil/ham)
NOW ON AIR SSFM 100

