Gerhana Bulan adalah peristiwa terhalanginya cahaya Matahari oleh Bumi, sehingga tidak semuanya sampai ke Bulan. Peristiwa akibat dinamisnya pergerakan posisi Matahari, Bumi, dan Bulan ini hanya terjadi pada saat fase purnama.
1. Kenapa Warna Gerhana Bulan Merah?
Gerhana Bulan Total terjadi saat posisi Matahari-Bumi-Bulan sejajar. Hal ini membuat Bulan masuk ke bayangan inti (umbra) Bumi. Saat puncak gerhana terjadi, Bulan akan terlihat berwarna merah saat langit cerah.
Warna merah pada Bulan disebabkan hamburan Rayleigh di atmosfer Bumi. Cahaya matahari yang melewati atmosfer Bumi akan terhambur, sehingga cahaya dengan panjang gelombang pendek seperti biru akan tersebar lebih banyak, sementara cahaya dengan panjang gelombang lebih panjang seperti merah akan lolos dan mencapai permukaan Bulan, sehingga Bulan tampak merah.
2. Tahun 2026 Terjadi 4 Kali Gerhana
Pada 2026, terjadi empat kali gerhana, yaitu 2 kali gerhana bulan dan 2 kali gerhana matahari.
- Gerhana Matahari Cincin (GMC) terjadi 17 Februari 2026 dan tidak bisa diamati dari Indonesia
- Gerhana Bulan Total (GBT) pada hari ini, 3 Maret 2026 dan dapat diamati dari Indonesia
- Gerhana Matahari Total (GMT) pada 12 Agustus 2026 mendatang, tidak dapat diamati dari Indonesia
- Gerhana Bulan Sebagian (GBS) pada 28 Agustus 2026 dan tidak dapat diamati dari Indonesia.
3. Gerhana Bulan Memiliki Beberapa Fase
Gerhana Bulan Total memiliki 7 fase yaitu:
- Gerhana Penumbra mulai (P1) pada 15.42 WIB
- Gerhana Sebagian mulai (U1) pada 16.49 WIB
- Gerhana Total mulai (U2) pada 18.03 WIB
- Puncak Gerhana pada 18.33 WIB
- Gerhana Total berakhir (U3) pada 19.03 WIB
- Gerhana Total berakhir (U4) pada 20.17 WIB
- Gerhana Penumbra berakhir (P4) pada 21.24 WIB
4. Gerhana Bulan Bisa Dilihat dari Beberapa Wilayah Dunia
Gerhana bulan total ini dapat diamati di berbagai wilayah dunia, termasuk:
- Asia Timur dan Asia Tenggara
- Australia dan Selandia Baru
- Sebagian wilayah Amerika dan kawasan Pasifik
Di Indonesia, fenomena ini dapat terlihat saat Bulan terbit pada sore hingga malam hari, tergantung lokasi dan kondisi cuaca.
5. Gerhana Bulan Aman Dilihat dengan Mata Telanjang
Melansir laman Universitas Negeri Surabaya, gerhana bulan aman diamati dengan mata telanjang, karena yang terlihat hanyalah pantulan cahaya dari Bulan, bukan radiasi Matahari langsung seperti pada gerhana matahari.
Penggunaan teropong atau teleskop dapat membantu melihat detail permukaan Bulan saat fase totalitas.
6. Secara Ilmiah Gerhana Bulan Jadi Bukti Bumi Berbentuk Bulat
Sejak zaman Aristoteles, gerhana bulan digunakan sebagai bukti, Bumi berbentuk bulat karena bayangannya selalu melengkung.
- Secara modern, fenomena ini juga membantu ilmuwan mempelajari:
- Dinamika orbit Bumi dan Bulan
- Struktur bayangan umbra dan penumbra
- Kondisi atmosfer Bumi melalui analisis spektrum cahaya.(lea/ipg)
NOW ON AIR SSFM 100
