Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mencatat ada 62 kasus Super Flu atau influenza varian H3N2 subclade K di Indonesia. Dari jumlah tersebut, Jatim menjadi provinsi dengan kasus terbanyak.
Kemenkes mencatat di Jatim terdapat 23 kasus, diikuti oleh Kalimantan Selatan dengan 18 kasus, Jawa Barat 10 kasus, Sumatera Selatan 5 kasus, dan Jawa Tengah, Sulawesi Utara, serta Yogyakarta masing-masing satu kasus.
Dengan kondisi itu, Dr. dr. Agung Dwi Wahyu Widodo Pakar Imunologi dan Mikrobiologi Universitas Airlangga (Unair) mengatakan, saat ini penting untuk kembali menggunakan masker.
Ia menekankan, perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) merupakan langkah penting yang harus diterapkan.
“Ini harus diedukasikan kepada masyarakat. Jadi per individu harus melihat bahwa PHBS ini harus diterapkan. Kalau dulu waktu Covid sudah banyak belajar menggunakan masker, kita harus gunakan masker kembali, supaya menurunkan angka penularan,” katanya saat dihubungi suarasurabaya.net pada Minggu (4/1/2026).
Agung mengatakan, istirahat cukup juga menjadi hal penting untuk mengatasi kasus tersebut. Ia menegaskan bahwa istirahat harus tidur, bukan sekadar rebahan.
“Kemudian kelelahan, stres dan lain-lain itu harus kita hindari, karena itu menurunkan kekebalan, sehingga gampang terinfeksi,” ucap SMF Mikrobiologi Klinik RSUD Dr. Soetomo Surabaya itu.
Selain itu, ia juga mengingatkan pentingnya asupan nutrisi seperti sayur hingga buah, apalagi saat ini berada dalam musim hujan yang sering mendapat peringatan waspada cuaca ekstrem.
Jika ada gejala yang sudah mengarah kepada Super Flu, ia menyarankan agar segera berobat untuk menghilangkan gejala-gejala yang timbul.
Jika batuk, ia juga menekankan bahwa terdapat etika yang harus dilakukan, yakni dengan memakai masker dan tidak membuang tisu bekas bersin atau batuk sembarangan, karena bisa menyebarkan virus.
“Kita harus tahu, virus ini masuk ke tubuh kita lewat tiga cara, lewat mulut, hidung, dan mata. Dan kita harus memproteksi tiga itu. Dan jangan lupa, setelah bersin, batuk, cuci tangan gunakan air mengalir atau mengandung alkohol. Kenapa? Karena virus kalau terkena alkohol bisa mati, jadi terproteksi,” ucapnya.
Agung menjelaskan, bahwa Super Flu beda dengan Flu biasa, yakni sakitnya lebih berat dan masa penyembuhannya lebih lama.
“Kalau flu biasa mungkin seminggu itu sudah mentok, biasanya bisa sembuh sendiri. Tapi ini tidak, agak panjang, sekitar 10 sampai 14 hari,” ucapnya.
Super Flu, kata dia, sudah ada sejak lama di Amerika. Kemudian, pada Agustus 2025 Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat menemukan subclade baru, yakni subclade K yang menimbulkan flu lebih berat.
Beberapa negara lain, lanjut dia, diwajibkan vaksinasi untuk mencegah penyakit tersebut dan menjaga kondisi tubuh agar tidak sampai pada infeksi berat.
“Harus melakukan pencegahan, karena pencegahan itu lebih mudah kita lakukan daripada mengobatinya,” pungkasnya. (ris/saf/ham)
NOW ON AIR SSFM 100
