Sabtu, 10 Oktober 2026

Kanker Payudara Ancam Perempuan Indonesia, Ini Pentingnya Deteksi Dini melalui SADARI

Laporan oleh Muhammad Syafaruddin
Bagikan
Ilustrasi pita kanker payudara. Foto: Pexels

Kanker payudara masih menjadi ancaman serius bagi perempuan Indonesia. Data Global Cancer Observatory (GLOBOCAN) 2022 mencatat 66.271 kasus baru kanker payudara di Indonesia, atau sekitar 30,1 persen dari seluruh kasus kanker baru pada perempuan.

Angka tersebut menegaskan pentingnya deteksi dini melalui pemeriksaan payudara sendiri (SADARI), pemeriksaan klinis, serta mammografi sesuai rekomendasi medis.

Prof. Dr. dr. S. Ugroseno Yudho Bintoro, Sp.PD-KHOM, FINASIM, Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Hematologi Onkologi Medik Mayapada Hospital Surabaya, mengatakan bahwa deteksi dini berperan penting dalam meningkatkan peluang keberhasilan pengobatan kanker payudara.

“Kanker payudara yang terdeteksi pada stadium awal memiliki peluang keberhasilan pengobatan yang lebih baik. Saat ini, penanganan kanker payudara juga semakin berkembang, tidak hanya melalui kemoterapi, tetapi juga terapi hormonal, terapi target, hingga imunoterapi sesuai dengan karakteristik kanker dan kondisi pasien,” jelas Prof. Ugroseno.

Ia menambahkan, deteksi dini dan pemilihan terapi yang sesuai dapat membantu meningkatkan hasil pengobatan sekaligus mempertahankan kualitas hidup pasien.

Salah satu langkah awal yang dapat dilakukan perempuan adalah mengenali kondisi payudara secara rutin melalui SADARI.

Pemeriksaan ini membantu mengenali perubahan yang tidak biasa, seperti benjolan, perubahan bentuk atau ukuran payudara, perubahan kulit, maupun kelainan pada puting.

Apabila menemukan perubahan yang mencurigakan, perempuan dianjurkan segera berkonsultasi dengan tenaga medis.

Pemeriksaan Payudara Klinis atau SADANIS dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan untuk mengevaluasi kondisi payudara lebih lanjut.

Selain SADARI dan SADANIS, pemeriksaan penunjang seperti mammografi dan ultrasonografi (USG) payudara juga berperan dalam mendeteksi kelainan.

Pemilihan metode pemeriksaan perlu disesuaikan dengan usia, faktor risiko, kondisi pasien, serta rekomendasi dokter. SADARI tidak menggantikan pemeriksaan medis maupun skrining yang dianjurkan.

Upaya meningkatkan kesadaran kanker payudara juga dilakukan melalui kolaborasi Mayapada Hospital dengan Persebaya Surabaya dalam rangka Breast Cancer Awareness Month atau Bulan Kesadaran Kanker Payudara.

Program ini menyasar masyarakat, khususnya Bonita, komunitas pendukung perempuan Persebaya, melalui kegiatan edukasi dan akses pemeriksaan kesehatan pada Jumat (9/10/2026). Kegiatan serupa dijadwalkan kembali pada 18 Oktober 2026.

Dalam rangkaian kegiatan ini, Persebaya juga menyediakan 20 kursi khusus bagi penyintas kanker. Fasilitas tersebut menjadi bentuk apresiasi dan dukungan moral bagi mereka yang menjalani atau telah melewati perjuangan menghadapi kanker.

Candra Wahyudi Direktur Operasional Persebaya Surabaya mengatakan, kolaborasi tersebut merupakan bentuk kepedulian klub terhadap kesehatan perempuan dan komunitas pendukungnya.

“Bagi Persebaya, Bonita bukan hanya bagian dari suporter, tetapi juga keluarga besar kami. Melalui kolaborasi ini, kami ingin mengajak para perempuan untuk lebih peduli terhadap kesehatan dan pentingnya deteksi dini kanker payudara,” ujar Candra.

Ia menambahkan, kehadiran para penyintas kanker dalam kegiatan tersebut diharapkan menjadi simbol solidaritas dan dukungan bagi mereka yang tengah menghadapi perjuangan melawan penyakit tersebut.

“Kehadiran 20 penyintas kanker di tengah keluarga besar Persebaya juga menjadi simbol semangat, keberanian, dan harapan bahwa mereka tidak pernah berjuang sendirian,” katanya. (saf/iss)

Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Cuaca di Pos Pantau Gunung Merapi Cerah

Posisi Mobil Tersangkut di Viaduk dari Belakang

Tersangkut di Bawah Viaduk Gubeng

Kecelakaan Beruntun di Tol Waru Arah Perak

Surabaya
Sabtu, 10 Oktober 2026
29o
Kurs