Minggu, 11 Oktober 2026

Peringati Hari Anak Perempuan Internasional, Orang Tua Perlu Kenali 4 Ancaman Kesehatan Ini

Laporan oleh Muhammad Syafaruddin
Bagikan
Ilustrasi - Seorang ayah bermain bersama anak perempuannya di sebuah pantai. Foto: Reuters

Hari Anak Perempuan Internasional diperingati setiap 11 Oktober sebagai momentum untuk meningkatkan perhatian terhadap hak, kesejahteraan, dan masa depan anak perempuan.

Salah satu aspek penting yang perlu mendapat perhatian adalah kesehatan, mulai dari pola hidup sehari-hari hingga edukasi mengenai kesehatan reproduksi dan kondisi psikologis.

Memasuki masa pubertas, anak perempuan mengalami berbagai perubahan fisik, hormonal, dan emosional.

Pada fase ini, dukungan keluarga serta pemahaman mengenai kesehatan menjadi penting agar mereka mampu mengenali perubahan tubuh dan mengambil keputusan yang tepat untuk menjaga kesejahteraan diri.

Sejumlah persoalan kesehatan perlu diwaspadai sejak dini, di antaranya obesitas, gangguan makan seperti bulimia, kehamilan remaja, serta risiko kanker payudara pada masa mendatang.

Dilansir dari laman Care24, berikut empat risiko kesehatan yang perlu diketahui orang tua dan anak perempuan, beserta langkah pencegahan yang dapat dilakukan.

1. Obesitas
Obesitas merupakan kondisi penumpukan lemak tubuh berlebihan yang dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit, termasuk diabetes tipe 2, penyakit kardiovaskular, dan hipertensi.

Pada anak perempuan, obesitas juga dapat berkaitan dengan gangguan hormonal, menstruasi tidak teratur, serta peningkatan risiko sindrom ovarium polikistik atau PCOS pada sebagian individu.

Berbagai faktor dapat memengaruhi berat badan, mulai dari pola makan, kurangnya aktivitas fisik, kebiasaan tidur, faktor genetik, hingga perubahan hormonal selama pubertas.

Pencegahan dapat dimulai dengan membangun kebiasaan hidup sehat di lingkungan keluarga. Orang tua dapat menyediakan makanan bergizi seimbang, memperbanyak konsumsi sayur dan buah, serta membatasi makanan tinggi gula, garam, dan lemak.

Anak juga perlu didorong melakukan aktivitas fisik secara rutin melalui olahraga, bersepeda, menari, atau kegiatan lain yang disukai. Waktu tidur yang cukup dan pembatasan penggunaan gawai juga membantu mendukung kesehatan secara keseluruhan.

Pendekatan terhadap berat badan sebaiknya dilakukan tanpa mempermalukan atau memberi stigma kepada anak. Fokus utama adalah membangun kebiasaan sehat, bukan semata-mata mengejar angka pada timbangan.

2. Bulimia
Bulimia nervosa merupakan gangguan makan yang ditandai dengan episode makan dalam jumlah banyak disertai perilaku kompensasi yang tidak sehat, seperti memaksakan muntah, menggunakan obat pencahar secara tidak tepat, atau berolahraga secara berlebihan untuk menghindari kenaikan berat badan.

Tekanan sosial, kekhawatiran terhadap bentuk tubuh, rendahnya kepercayaan diri, dan persoalan psikologis dapat berperan dalam munculnya gangguan ini.

Namun, bulimia tidak disebabkan oleh satu faktor tunggal dan dapat dialami oleh individu dengan berbagai bentuk maupun ukuran tubuh.

Jika tidak ditangani, bulimia dapat menyebabkan dehidrasi, gangguan elektrolit, kerusakan gigi, masalah saluran pencernaan, gangguan irama jantung, serta masalah kesehatan mental.

Orang tua perlu membangun komunikasi yang terbuka dan menghindari komentar yang merendahkan penampilan anak. Penghargaan terhadap kemampuan, karakter, dan pencapaian anak dapat membantu membentuk citra diri yang lebih sehat.

Perubahan pola makan yang mencurigakan, kebiasaan ke kamar mandi segera setelah makan, ketakutan berlebihan terhadap kenaikan berat badan, atau perubahan kondisi fisik perlu diperhatikan.

Jika terdapat tanda-tanda tersebut, konsultasikan dengan tenaga kesehatan agar anak memperoleh pemeriksaan dan penanganan yang sesuai.

3. Kehamilan Remaja
Kehamilan pada usia remaja dapat menimbulkan risiko kesehatan bagi ibu maupun bayi. Remaja yang hamil memiliki risiko lebih tinggi mengalami sejumlah komplikasi, termasuk anemia, hipertensi dalam kehamilan, dan persalinan prematur. Bayi yang dilahirkan juga berisiko mengalami berat badan lahir rendah dan komplikasi lainnya.

Salah satu tantangan dalam pencegahan kehamilan remaja adalah keterbatasan akses terhadap informasi kesehatan reproduksi yang akurat.

Informasi yang hanya diperoleh dari teman sebaya atau media sosial tanpa pemahaman yang memadai dapat menimbulkan kesalahpahaman mengenai hubungan seksual, kontrasepsi, dan konsekuensi kehamilan.

Karena itu, edukasi kesehatan reproduksi perlu diberikan secara bertahap sesuai usia dan tingkat pemahaman anak.

Orang tua dapat menjelaskan perubahan tubuh saat pubertas, menstruasi, batasan pribadi, persetujuan, serta cara menjaga diri dari kekerasan dan eksploitasi seksual.

Komunikasi yang terbuka juga membantu anak merasa aman untuk bertanya atau menyampaikan masalah tanpa takut langsung disalahkan.

Informasi mengenai kontrasepsi dan pencegahan infeksi menular seksual sebaiknya diberikan berdasarkan kebutuhan dan tahap perkembangan anak dengan merujuk pada sumber kesehatan yang tepercaya.

Apabila kehamilan terjadi, remaja perlu memperoleh pendampingan dan akses layanan kesehatan sesegera mungkin.

Pendekatan yang tidak menghakimi penting agar mereka tidak menunda pemeriksaan atau menghadapi risiko tambahan akibat penanganan yang tidak aman.

4. Kanker Payudara
Kanker payudara lebih sering ditemukan pada perempuan dewasa, terutama pada usia yang lebih tua, tetapi pemahaman mengenai kesehatan payudara tetap penting dikenalkan sejak remaja.

Sebagian besar perubahan pada payudara selama pubertas merupakan bagian dari perkembangan normal. Meski demikian, anak perempuan perlu mengetahui bahwa benjolan baru, perubahan bentuk yang tidak biasa, keluarnya cairan dari puting, atau perubahan kulit yang menetap perlu diperiksakan kepada tenaga kesehatan.

Risiko kanker payudara dapat dipengaruhi oleh sejumlah faktor, termasuk pertambahan usia, riwayat keluarga, faktor genetik tertentu, serta paparan hormonal dan lingkungan.

Riwayat keluarga, terutama pada kerabat dekat, dapat menjadi alasan untuk berkonsultasi dengan dokter mengenai risiko individual.

Pencegahan tidak dapat menjamin seseorang terbebas sepenuhnya dari kanker payudara. Namun, kebiasaan hidup sehat, aktivitas fisik, menjaga berat badan yang sehat, dan menghindari faktor risiko tertentu dapat membantu mendukung kesehatan secara umum.

Pada anak perempuan dan remaja, pemeriksaan mandiri secara rutin untuk mencari kanker payudara bukan pengganti pemeriksaan medis dan tidak dianjurkan sebagai metode skrining rutin bagi mereka yang berisiko rata-rata.

Hal yang lebih penting adalah mengenali kondisi tubuh dan segera memeriksakan perubahan yang mencurigakan. (saf/ham)

Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Cuaca di Pos Pantau Gunung Merapi Cerah

Posisi Mobil Tersangkut di Viaduk dari Belakang

Tersangkut di Bawah Viaduk Gubeng

Kecelakaan Beruntun di Tol Waru Arah Perak

Surabaya
Minggu, 11 Oktober 2026
30o
Kurs