Sabtu, 10 Oktober 2026

Perkembangan Teknologi dan Cara Pandang Terhadap Pekerjaan, Dinilai Pengaruhi Kesehatan Mental

Laporan oleh Akira Tandika Paramitaningtyas
Bagikan
Ilustrasi seorang wanita sedang menghadapi stress. Foto: Freepik

Isu kesehatan mental belakangan menjadi perhatian khusus. Selain anak-anak dan remaja, kalangan pekerja juga menjadi kelompok yang rentan mengalami penyakit mental.

Data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) pada 2023 lalu menunjukkan, 83 persen pekerja Indonesia mengalami gejala burnout yakni, kelelahan fisik, mental, dan emosional karena stres berkepanjangan.

Terkait fenomena itu, drg. Vitria Dewi, M.Si Direktur Rumah Sakit Daerah (RSD) Prof. dr. Moeljono atau RS Menur membenarkan bahwa keluhan burnout di kalangan pekerja memang mengalami peningkatan cukup signifikan.

Tren keluhan tekanan kerja ini, dinilai Vitria makin sering muncul, terutama pada 5-10 tahun belakangan. Meski begitu, dengan adanya peningkatan ini, Vitria juga sekaligus mengapresiasi kesadaran masyarakat terkait kesehatan mental.

Menurutnya, selain kesadaran masyarakat, adanya peningkatan keluhan ini juga dipengaruhi oleh pergeseran cara pandang generasi muda terhadap pekerjaan, serta masifnya perkembangan teknologi dan digitalisasi yang membuat batas antara waktu kerja dan istirahat menjadi semakin tipis.

“Kalau saya melihatnya karena ada kemudahan komunikasi seperti lewat handphone atau email, sering kali membuat tuntutan pekerjaan tidak mengenal batas waktu. Kemudian perubahan gaya hidup, lingkungan kerja, serta tingginya tingkat stressor juga jadi pemicu utama meningkatnya kasus kelelahan mental atau burnout di kalangan pekerja saat ini,” katanya, pada suarasurabaya.net, Sabtu (10/10/2026).

Vitria menjelaskan, biasanya burnout ditandai dengan hilangnya semangat kerja, rasa lelah yang berkepanjangan, hilangnya motivasi, hingga muncul rasa malas untuk berangkat bekerja.

Kondisi ini jika tidak ditangani dengan baik, maka dapat memicu emosi berlebihan, kemarahan yang sulit dikendalikan, sampai berdampak buruk pada kesehatan fisik.

“Kalau masalah mental itu, dampak fisiknya dari ujung rambut sampai ujung kuku. Jadi mungkin banyak juga yang kadang kalau sudah stres, bersamaan juga dengan asam lambung meningkat, mual, pusing, dan tengkuk terasa berat, itu beberapa tanda kalau stres sudah berdampak pada kesehatan fisik kita,” ungkapnya.

Sebelumnya, dalam Klinik Psikologi yang dihadirkan Radio Suara Surabaya pada 29 September 2026, Rafika Nirmala, Psikolog Associate Bright Soul menyampaikan bahwa stres kerja merupakan hal yang wajar. Namun, yang perlu diwaspadai adalah jika kelelahan itu mengarah ke burnout.

“Kalau sudah mulai hilang fokus, tetap capek meski sudah beristirahat, dan mengganggu hubungan sosial serta aktivitas sehari-hari, maka perlu segera mencari bantuan profesional,” tuturnya.

Nirmala kemudian menyarankan beberapa hal yang bisa dilakukan pekerja untuk mengelola stres karena tekanan pekerjaan. Pertama, melakukan manajemen pikiran. Hal ini bisa dilakukan dengan journaling atau membuat daftar tugas agar lebih terorganisir dan tenang.

Selanjutnya adalah membicarakan kendala kerja dengan atasan atau memanfaatkan program Employee Assistance Program di kantor.

“Tapi jika dirasa hal itu sudah tidak membantu lagi, segera mencari bantuan profesional. Masyarakat nggak perlu takut, karena mencari bantuan profesional bukan tanda kelemahan atau ketidakprofesionalan. Justru ini adalah langkah sadar untuk menjaga kesehatan mental sebelum kondisi memburuk,” jelasnya.

Adapun dalam momen Hari Kesehatan Mental Dunia yang jatuh pada 10 Oktober 2026 mengusung tema “Lives Experiences Heard: Real Voices, Real Changes”. Menurut Vitria, tema ini sekaligus menekankan pentingnya mendengarkan pengalaman langsung dari penyintas atau orang yang mengalami masalah kesehatan mental.

“Menurut saya, mereka tidak seharusnya hanya diposisikan sebagai objek cerita, melainkan sebagai mitra aktif dalam perumusan kebijakan layanan kesehatan,” tambahnya.

Sebagai direktur RSD Prof. dr. Moeljono, pihaknya juga menegaskan bahwa penanganan kesehatan mental tidak bisa dilakukan sendirian oleh institusi kesehatan saja.

Dibutuhkan kolaborasi lintas sektor, mulai dari tenaga kesehatan, organisasi profesi, komunitas, hingga para pelaku dunia usaha atau pemberi kerja, untuk mengedukasi masyarakat, menghilangkan stigma negatif terhadap rumah sakit jiwa, serta menciptakan lingkungan kerja yang lebih sehat.

“Rumah sakit nggak bisa sendiri. Kita harus mengedukasi masyarakat, mengedukasi semua organisasi profesi, organisasi masyarakat, komunitas-komunitas, supaya semuanya paham. Ayo kita berbarengan, kita bergandengan tangan, kita bersama-sama berjuang untuk kesehatan mental masyarakat,” tutupnya.(kir/bil/faz)

Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Cuaca di Pos Pantau Gunung Merapi Cerah

Posisi Mobil Tersangkut di Viaduk dari Belakang

Tersangkut di Bawah Viaduk Gubeng

Kecelakaan Beruntun di Tol Waru Arah Perak

Surabaya
Sabtu, 10 Oktober 2026
33o
Kurs