Jumat, 2 Oktober 2026

Rokok hingga Obesitas, Gaya Hidup Ini Bisa Picu Serangan Jantung di Usia Muda

Laporan oleh Risky Pratama
Bagikan
dr. Christian Pramudita Budianto, dokter Spesialis Jantung RS Premier Surabaya. Foto: Istimewa

Serangan jantung tidak hanya menjadi ancaman bagi kelompok lanjut usia. Kelompok usia muda, termasuk mereka yang berusia di bawah 40 tahun, juga dapat mengalami kondisi tersebut, terutama ketika memiliki sejumlah faktor risiko yang berkaitan dengan gaya hidup.

dr. Christian Pramudita Budianto, dokter Spesialis Jantung Rumah Sakit (RS) Premier Surabaya mengatakan, kebiasaan merokok dengan intensitas tinggi dan obesitas menjadi beberapa faktor yang sering ditemukan pada pasien usia muda dengan serangan jantung.

“Rokok dengan intensitas tinggi, disertai gaya hidup tidak sehat seperti obesitas menjadi penyebab paling sering pada usia di bawah 40 tahun,” katanya, Jumat (2/10/2026).

Ia menjelaskan, pola konsumsi makanan dan minuman juga perlu diperhatikan. Kopi, misalnya, bukan semata-mata menjadi masalah. Yang perlu diwaspadai adalah tambahan gula dan bahan lain yang membuat asupan kalori serta gula menjadi tinggi.

“Yang jahat itu kalau kopi dicampur gula, krimer, dan susu kental manis. Pendamping kopi seperti pisang goreng juga menaikkan kadar gula darah pemicu serangan jantung,” jelasnya.

Selain pola makan dan kebiasaan merokok, kurang tidur serta stres yang berlangsung terus-menerus juga dapat memperburuk kondisi tubuh.

Christian menjelaskan, tekanan pekerjaan tidak serta-merta menyebabkan seseorang mengalami serangan jantung, tetapi risiko dapat meningkat ketika stres berjalan bersamaan dengan kurang istirahat dan gaya hidup yang tidak sehat.

“Kurangnya istirahat, akumulasi stres, ditambah gaya hidup buruk menyebabkan terjadinya serangan jantung. Jadi bukan semata-mata stres karena pekerjaan banyak lalu langsung terkena serangan,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan masyarakat, khususnya kelompok usia muda, agar tidak menganggap remeh nyeri dada yang muncul ketika atau setelah melakukan aktivitas fisik. Keluhan tersebut terkadang dianggap sebagai kelelahan atau masuk angin, padahal bisa menjadi tanda adanya gangguan pada jantung.

“Nyeri dada karena sakit jantung itu sensasinya seperti ditindih barang berat. Jangan meremehkan hal ini, apalagi jika terjadi saat atau setelah beraktivitas fisik,” ucapnya.

Ia mengatakan, aktivitas fisik secara rutin tetap dianjurkan untuk menjaga kebugaran dan kesehatan jantung. Namun, olahraga dengan intensitas tinggi juga perlu dilakukan secara terukur, terutama bagi orang yang memiliki faktor risiko penyakit jantung.

Pihaknya menyarankan orang yang rutin melakukan olahraga berintensitas tinggi, seperti lari, untuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala untuk mengetahui kondisi tubuh dan mengidentifikasi faktor risiko yang mungkin tidak disadari.

“Wajib melakukan medical check up. Serangan jantung bisa muncul mendadak seusai aktivitas fisik,” katanya.

Dengan kondisi itu, ia menekankan bahwa pencegahan serangan jantung pada usia muda tidak hanya dilakukan dengan berolahraga, tetapi juga dengan menghentikan kebiasaan merokok, menjaga berat badan, memperhatikan pola makan, mencukupi waktu tidur, mengelola stres, serta mengenali gejala yang tidak biasa menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan jantung.

Ia mengingatkan, keluhan nyeri dada yang muncul saat aktivitas fisik, terutama jika terasa seperti tekanan atau beban berat, sebaiknya tidak dianggap sebagai keluhan ringan dan perlu mendapatkan penilaian medis.

Kewaspadaan tersebut menurutnya penting, karena penyakit jantung dapat berkembang tanpa gejala yang jelas dan baru terdeteksi ketika seseorang mengalami keluhan yang lebih serius(ris/iss)

Soerabaja10k
Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Cuaca di Pos Pantau Gunung Merapi Cerah

Posisi Mobil Tersangkut di Viaduk dari Belakang

Tersangkut di Bawah Viaduk Gubeng

Kecelakaan Beruntun di Tol Waru Arah Perak

Surabaya
Jumat, 2 Oktober 2026
29o
Kurs