Memasuki bulan Ramadan, perubahan pola aktivitas menjadi hal yang tak terelakkan. Mulai dari waktu makan, minum, hingga pergeseran jam tidur karena harus bangun untuk sahur. Namun, perubahan waktu tidur ini ternyata memiliki dampak luas bagi kesehatan jika tidak dikelola dengan baik.
Hal tersebut menjadi sorotan Lailatul Muniroh dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menurutnya, perubahan pola tidur sering terjadi karena adanya aktivitas tambahan di malam hari serta kebiasaan begadang yang berlanjut.
Laila menjelaskan, bagi banyak orang, khususnya mahasiswa, waktu tidur berkurang akibat peningkatan aktivitas ibadah seperti tarawih dan tadarus, hingga kegiatan sosial seperti nongkrong atau mengerjakan tugas di malam hari. Tak hanya faktor aktivitas, kondisi biologis tubuh pun ikut berubah.
“Saat puasa terjadi perubahan hormon kortisol dan melatonin yang juga mempengaruhi kualitas tidur. Hal ini dapat semakin parah apabila melakukan begadang sampai sahur. Akibatnya tidur menjadi lebih larut, durasi tidur berkurang, atau kualitas tidur terganggu,” ungkap Laila dalam keterangan tertulisnya yang diterima suarasurabaya.net, Jumat (27/2/2026).
Selain itu, kebiasaan begadang tanpa jeda hingga waktu sahur ternyata juga menyimpan risiko kesehatan yang tidak sederhana. Laila membagi dampaknya menjadi dua kategori.
Pertama dampak jangka pendek seperti rasa kantuk berlebih di siang hari, penurunan konsentrasi, mood swing (perubahan suasana hati), pusing, dan penurunan daya tahan tubuh.
Yang kedua, dampak jangka menengah seperti munculnya gangguan metabolisme, meningkatnya hormon stres, nafsu makan tidak terkontrol saat berbuka yang memicu kenaikan berat badan, hingga terganggunya regulasi gula darah. Laila juga mengingatkan agar tidak “balas dendam” dengan tidur siang terlalu lama.
“Tidur siang terlalu lama dapat menyebabkan pusing saat bangun dan membuat sulit tidur di malam hari. Metabolisme juga bisa melambat, apalagi jika kurang aktivitas fisik, tubuh justru akan terasa lebih lemas,” jelasnya.
Karenanya, agar ibadah Ramadan tetap optimal dan tubuh tetap bugar, Laila memberikan beberapa solusi praktis yang bisa diterapkan masyarakat:
- Tidur Lebih Awal: Usahakan segera tidur setelah aktivitas malam selesai.
- Hindari Scrolling Gadget: Jangan bermain ponsel sebelum tidur karena cahaya biru layar dapat mengganggu hormon tidur.
- Tidur Siang Singkat: Cukup tidur siang selama 20-30 menit untuk memulihkan energi (power nap).
- Batasi Kafein: Hindari konsumsi kopi atau teh berlebih saat berbuka atau sahur.
- Tetap Aktif: Lakukan aktivitas fisik ringan di pagi hari dan pastikan asupan gizi seimbang saat sahur.
Dosen FKM Unair itu juga menjelaskan, dengan menata ritme hidup yang seimbang, ibadah diharapkan menjadi lebih sehat dan berkualitas.
“Ramadan adalah momen belajar pengendalian diri, sekaligus melatih kedisiplinan hidup. Tidur yang teratur bukan sekadar soal kenyamanan, tetapi bagian dari menjaga tubuh,” pungkas Laila. (bil/ipg)
NOW ON AIR SSFM 100
