Kamis, 8 Oktober 2026

Suara Berubah Jangan Diabaikan, Studi Temukan Kaitannya dengan Risiko Demensia

Laporan oleh Iping Supingah
Bagikan
Ilustrasi suara. Foto: Istimewa

Perubahan pada suara, seperti nada yang berubah, volume menurun, atau suara menjadi kurang jelas, ternyata dapat berkaitan dengan peningkatan risiko demensia dan gangguan kognitif.

Temuan tersebut berasal dari penelitian terbaru Drexel University College of Medicine di Philadelphia, Amerika Serikat, yang mengkaji hubungan antara gangguan suara, gangguan pendengaran, dan risiko gangguan kognitif di kemudian hari.

“Kami menemukan hubungan paling kuat dengan demensia pada pasien yang mengalami gangguan suara dan gangguan pendengaran,” kata Robert Sataloff, profesor sekaligus ketua di Drexel University College of Medicine, seperti dikutip New York Post, seperti dilansir Antara, Jumat (8/10/2026).

Penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Voice tersebut melibatkan 833.417 orang berusia 50 tahun ke atas. Para peneliti menganalisis hubungan antara gangguan suara, gangguan pendengaran, atau kombinasi keduanya dengan kemungkinan mengalami gangguan kognitif atau demensia, termasuk penyakit Alzheimer.

Penilaian dilakukan mulai satu tahun setelah peserta didiagnosis mengalami gangguan suara atau gangguan pendengaran.

Hasil penelitian menunjukkan peserta yang mengalami gangguan suara tanpa gangguan pendengaran memiliki kemungkinan 58 persen lebih tinggi mengalami demensia atau gangguan kognitif di kemudian hari.

Risiko tersebut lebih tinggi pada peserta yang mengalami gangguan suara sekaligus gangguan pendengaran. Kelompok ini memiliki kemungkinan 104 persen lebih tinggi mengalami demensia atau gangguan kognitif dibandingkan kelompok pembanding.

Sementara itu, jika seluruh peserta dengan gangguan suara digabungkan, baik yang disertai gangguan pendengaran maupun tidak, terdapat peningkatan kemungkinan sebesar 29 persen untuk mengalami demensia atau gangguan kognitif.

Peserta yang hanya mengalami gangguan pendengaran juga menunjukkan kemungkinan lebih tinggi, yakni sebesar 27 persen.

“Kami menemukan bahwa mereka yang mengalami gangguan suara tanpa gangguan pendengaran memiliki risiko lebih tinggi dibandingkan pasien yang hanya mengalami gangguan pendengaran,” ujar Sataloff.

Gangguan suara sendiri dapat muncul dalam berbagai bentuk. Cleveland Clinic mencatat beberapa kondisi yang dapat menyebabkan gangguan suara, antara lain laringitis, kelumpuhan pita suara, lesi pita suara, dan disfonia spasmodik atau distonia laring.

Peneliti menduga hubungan tersebut dapat berkaitan dengan perubahan pola interaksi sosial. Gangguan suara maupun gangguan pendengaran dapat membuat seseorang merasa tidak nyaman ketika berbicara dan akhirnya mengurangi aktivitas sosial.

Padahal, keterlibatan dalam aktivitas sosial dapat memberikan stimulasi bagi otak. Sejumlah penelitian sebelumnya juga mengaitkan aktivitas sosial dengan kesehatan kognitif dan risiko demensia.

Menurut Sataloff, hubungan antara gangguan suara, gangguan pendengaran, dan gangguan kognitif masuk akal karena seseorang yang mengalami rasa sakit atau ketidaknyamanan saat berbicara mungkin lebih jarang berpartisipasi dalam kegiatan sosial maupun aktivitas lain yang mendukung fungsi otak.

Meski demikian, para peneliti menekankan bahwa perubahan atau gangguan suara bukan berarti seseorang pasti akan mengalami demensia.

Gangguan suara juga tidak selalu merupakan tanda awal penurunan fungsi otak, penyakit Alzheimer, atau gangguan kognitif lainnya.

Temuan penelitian ini lebih menunjukkan adanya hubungan antara kondisi tersebut, bukan membuktikan bahwa gangguan suara secara langsung menyebabkan demensia.

Karena itu, perubahan suara yang menetap, terutama jika disertai gangguan pendengaran atau perubahan kemampuan berkomunikasi, sebaiknya tidak diabaikan. Pemeriksaan medis dapat membantu mengetahui penyebab gangguan suara sekaligus menentukan penanganan yang sesuai.(ant/ipg)

Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Cuaca di Pos Pantau Gunung Merapi Cerah

Posisi Mobil Tersangkut di Viaduk dari Belakang

Tersangkut di Bawah Viaduk Gubeng

Kecelakaan Beruntun di Tol Waru Arah Perak

Surabaya
Kamis, 8 Oktober 2026
31o
Kurs