Sabtu, 24 Januari 2026

Tren Fibermaxxing: Serat Penting untuk Kesehatan, tapi Hati-Hati Penyumbatan Usus

Laporan oleh Lea Citra Santi Baneza
Bagikan
Ilustrasi makanan kaya serat. Foto Ucla Health

Berbagai tren kerap bermuncul di media sosial, seperti minuman biji chia, puasa intermiten, sampai gel lumut laut sebagai superfood.

Ada juga fibermaxxing atau tren mengonsumsi banyak makanan kaya serat. Namun tren ini memiliki sisi positif dan negatif.

Menurut Yasi Ansari ahli gizi gangguan makan di UCLA Health Santa Monica, tren ini mampu mendorong orang-orang meningkatkan konsumsi makanan berserat.

“Ini jelas merupakan istilah yang sedang tren, yang pada dasarnya mendorong orang untuk meningkatkan asupan serat,” ungkapnya.

Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan Amerika Serikat mengungkap lebih dari 90 persen wanita dan 97 persen pria tidak memenuhi asupan serat harian. Padahal yang direkomendasikan, yaitu 25 gram untuk wanita dan 38 gram untuk pria.

“Sebagian besar orang mengonsumsi sekitar 15 gram per hari,” kata Ansari.

Melansir Ucla Health, serat sangat penting untuk kesehatan, peningkatan asupan serat dapat menurunkan kolesterol dan mengurangi risiko penyakit kronis, seperti diabetes, penyakit kardiovaskular, obesitas, dan kanker usus besar.

Ansari menyoroti pentingnya konsumsi serat untuk pencernaan, kesehatan usus, keseimbangan gula darah. Selain itu, buat orang yang menjalani diet, konsumsi serat bisa meningkatkan rasa kenyang dan perasaan puas setelah makan.

Ansari mengatakan, manusia memerlukan 2 jenis serat makanan, yaitu serat larut dalam air dan serat yang tidak larut dalam air.

Serat larut membentuk zat seperti gel di dalam lambung, memperlambat pencernaan, sehingga orang akan merasa kenyang lebih lama. Serat ini juga membantu memberi makan bakteri yang membentuk mikrobioma usus.

“Ini adalah jenis serat yang membantu menurunkan kolesterol LDL karena mengikat kolesterol dan mengeluarkannya dari tubuh,” kata Ansari.

Sedangkan serat tidak larut dalam air, membantu menggerakkan makanan melalui saluran pencernaan dan mencegah sembelit.

Serat larut ada dalam makanan seperti oat, kacang-kacangan, biji-bijian, apel, wortel, dan sekam psyllium. Makanan yang mengandung serat tidak larut meliputi dedak gandum utuh, beras merah, kacang-kacangan, biji-bijian, dan banyak sayuran, seperti kembang kol, buncis, dan kentang.

Makan Banyak Serat Boleh, tapi Hati-Hati Kalau Berlebihan!

Konsumsi serat berlebih bisa menimbulkan gangguan tubuh. Beberapa efek yang akan muncul adalah perut kembung, mual, kram, sembelit, hingga diare.

Terlalu banyak serat juga mengganggu penyerapan nutrisi penting seperti kalsium, zat besi, dan zinc. Ini disebabkan serat bisa mengikat mineral tersebut dan menghalangi penyerapannya.

Perlu diperhatikan, dalam kasus ekstrem, kelebihan serat bisa menyebabkan penyumbatan usus. Oleh karena itu penting menjaga keseimbangan asupan serat. Lantaran kekurangan serat juga berefek negatif bagi tubuh. Misalnya sembelit, perut terasa penuh, berat badan naik, dan mengganggu keseimbangan bakteri baik di usus. (lea/iss)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Kebakaran Rumah di Pengampon Surabaya

Banjir Menggenangi Sidosermo 4

Kecelakaan Bus Vs Truk Gandeng di Jembatan Suramadu

Surabaya
Sabtu, 24 Januari 2026
31o
Kurs