Kehidupan perkotaan di Indonesia menghadirkan ritme yang super cepat. Target pekerjaan yang menumpuk, kemacetan yang panjang, hingga tekanan sosial media membuat banyak warga kota menghadapi burnout dan kecemasan.
Fenomena slow living muncul sebagai salah satu alternatif gaya hidup untuk menghadapi tekanan ini, kata Radius Setiyawan Wakil Rektor 4 Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura).
“Slow living lahir sebagai respons terhadap kecepatan hidup modern. Di era ini, dalam konteks makanan ada fast food, dalam pekerjaan banyak orang menghadapi burnout karena target yang sangat tinggi. Nah slow living ini bagian dari semacam alternatif gaya hidup,” ujar Radius dalam program Wawasan Radio Suara Surabaya, Rabu (25/2/2026).
Ia menekankan, tren ini bukan sekadar gaya hidup kekinian, tetapi bentuk resistensi terhadap pola hidup yang terlalu cepat. Radius mengutip cerpen Seno Gumira Ajidarma, Menjadi Tua di Jakarta:
“Alangkah mengerikannya menjadi tua dengan kenangan masa muda yang hanya berisi kemacetan jalan, ketakutan datang terlambat ke kantor, tugas-tugas rutin yang tidak menggugah semangat, dan kehidupan seperti mesin yang hanya akan berakhir dengan pensiun tidak seberapa.”
Deskripsi ini mencerminkan realitas banyak kota besar di Indonesia, termasuk Surabaya, di mana industrialisasi dan tekanan kerja mendikte ritme kehidupan warga.
Menurut Radius, ada beberapa prinsip utama slow living yang relevan bagi warga perkotaan:
1. Mindfulness – Menjalani setiap aktivitas dengan sadar dan penuh perhatian, bukan sekadar rutinitas.
2. Menghargai kualitas – Membeli barang berkualitas dan tahan lama, bukan sekadar mengikuti tren konsumsi cepat.
3. Menjaga keseimbangan hidup – Menetapkan batas yang jelas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi, termasuk waktu istirahat dan relaksasi.
Ia menambahkan, penetrasi gaya hidup ini juga diperkuat oleh dunia digital dan sosial media. “Sosial media bisa menjadi alat yang menekan kita, membuat orang berpacu dengan kehidupan orang lain, sehingga memicu kelelahan dan kecemasan. Slow living menjadi cara untuk memutus ritme itu,” jelas Radius.
Kehidupan di kota besar seperti Surabaya atau Jakarta identik dengan industrialisasi dan logika kapital.
Radius menjelaskan bahwa keuntungan kapital selalu dihitung dengan waktu, sementara pekerja harus memenuhi target industri. Sehingga banyak yang mengalami alienasi, merasa hidupnya terkuras untuk memenuhi kebutuhan produksi.
Ia menyoroti keterbatasan ruang publik di kota besar. Banyak fasilitas terbuka atau olahraga yang idealnya bisa menjadi tempat jeda, justru berbayar. Hal ini membatasi warga untuk menemukan waktu santai dan merevisi diri dari tekanan pekerjaan.
“Nah, saya kira negara atau kota kadang-kadang terjebak pada persoalan industrialisasi, kapitalisasi yang berlebihan yang ada kalau kalau mau mengaliasi masyarakat,” jelasnya.
Bagi Radius, slow living adalah salah satu cara agar warga perkotaan dapat mengatasi tekanan hidup modern. Dengan prinsip mindfulness, penghargaan terhadap kualitas, dan batasan jelas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi, warga dapat menciptakan ritme hidup yang lebih sehat dan bermakna, meski tinggal di kota besar. (saf/ipg)
NOW ON AIR SSFM 100
