WIBISONO Peneliti Ekonomi Utama Bank Indonesia Surabaya meminta pelaku pasar uang jangan bersikap reaktif. Terjadinya subprime mortgage (kredit perumahan) di Amerika Serikat memang memberikan dampak di Indonesia.
Hanya saja, jika pelaku pasar uang menyikapi secara over reactive, dampaknya akan lebih besar dan bisa memperburuk kondisi rupiah. “Kalau pelaku pasar panik kemudian menjual inventorinya ramai-ramai situasi tidak akan membaik. Malahan akan banyak spekulan. Ibaratnya jika terjadi gempa dan berlangsung selama sebulan jelas akan terjadi kerusakan besar. Begitu pula kalau pelaku pasar panik terus-terusan, kondisi pasar uang di Indonesia bisa memburuk,”ujarnya.
Sementara fundamental makro ekonomi Indonesia, kata WIBISONO, terus membaik sampai saat ini. Bahkan ke depan, prediksi WIBISONO, inflasi Indonesia berjalan stabil.
Untuk itu, WIBISONO menegaskan, jangan sampai terjadi panic buying maupun panic selling. Bank Indonesia sendiri akan berupaya mempertahankan tingkat inflasi untuk jangka waktu ke depan. Upaya Bank Indonesia ini harus didukung pelaku pasar uang dengan cara tetap tenang dengan adanya subprime mortgage yang terjadi di Amerika Serikat.
WIBISONO menambahkan subprime mortgage yang menggoncangkan pasar saham dunia, hanya bersifat sementara. Suatu saat pelaku pasar uang dunia akan menemukan titik keseimbangan dalam mengatasi subprime mortgage. (tin)
NOW ON AIR SSFM 100

