Sabtu, 17 Oktober 2026
Cegah <I>Hot Money</I> Keluar

Bank Sentral Dunia Suntikan Dana Milyaran Euro

Laporan oleh Noer Soetantini
Bagikan

Akibat krisis subprime mortgage (kredit kepemilikan rumah) di Amerika Serikat, bank sentral dunia berbondong-bondong menyuntikan dana milyaran Euro untuk meningkatkan likuiditas pasar saham.

Hal tersebut disampaikan BUDIYANTO WINATA Head of Wealth Management PT Bank Commonwealth di sela Press Workshop di Hyatt Regency, Jumat (10/08).
Pada suarasurabaya.net, BUDIYANTO menjelaskan suntikan dana juga ditujukan untuk mencegah hot money yang keluar, imbas redemption di pasar bursa. Suntikan dana besar-besaran dimulai hari ini seperti European Central Bank suntikan dana sebesar 120 milyar Euro, The Fed 20 milyar Euro dan Jepang 8,3 milyar Euro.

Hot money, kata BUDIYANTO, dulu banyak yang tidak dimasukan ke sektor rill tapi ke bursa saham. Saat volatilitas naik, mereka mengambil keuntungan dari emerging market ke treasury market Amerika Serikat.

Dampaknya, menurut BUDIYANTO, obligasi surat pemerintah Amerika dalam jangka waktu 10 tahun turun dari 5,2% jadi 4,8%. Imbas subprime sendiri semula terisolasi hanya di Amerika, tapi kenyataannya dialami di pasar saham Australia dan Eropa. Berikut penjelasan BUDIYANTO tentang besaran hot money di Indonesia dan dampaknya, {clip*1}.

Secara fundamental, imbas global subprime tidak berpengaruh pada kekuatan finansial di Indonesia. Bahkan Indeks Harga Saham Gabungan Indonesia sampai akhir 2007, tegas BUDIYANTO, bisa menyentuh level 2400 bahkan di atasnya.

BUDIYANTO menambahkan fundamental ekonomi Indonesia masih cukup baik. Indikatornya, economic growth on the track, inflasi 6%, exchange rate di kisaran Rp 9200-Rp 9300, ekspor minus impor sekitar US$52 milyar-US$ 55 milyar. (tin)

Teks foto :
– BUDIYANTO WINATA
Foto : TITIN suarasurabaya.net

Bagikan

Potret NetterSelengkapnya

Truk Muat Kol Terguling

Exit Tol Waru Awal Pekan

Mobil Tabrak Bangunan Semi Permanen

Cuaca di Pos Pantau Gunung Merapi Cerah

Surabaya
Sabtu, 17 Oktober 2026
31o
Kurs