Tarif listrik di luar negeri lebih murah dibandingkan di Indonesia. Pemerintah mengendalikan semua komponen terkait dengan kelistrikan termasuk energi primer. Hal ini disampaikan Ir.HARIADI SADONO Direktur PLN Distribusi Jawa Timur dalam Business Gathering Suara Surabaya Media, Sabtu (28/07).
Sementara di Indonesia, pemerintah justru mengendalikan harga jualnya. Akibatnya, harga energi primer tergantung dengan harga pasar dunia. “Kalau harga dunia batu bara naik, di sini ikut naik, begitu pula dengan BBM. Dampak lainnya, suplai ke Pembangkit Jawa Bali bisa dikalahkan,”kata HARIADI.
Dengan adanya sistem pentarifan yang diatur oleh Keprres tahun 2003, ungkap HARIADI, PLN tidak bisa berbuat apa-apa. Apalagi jika dihitung dari biaya investasi, biaya operasi sangat mahal ditambah biaya bahan bakar (energi primernya).
HARIADI mencontohkan saat subsidi listrik dilepas pemerintah, biaya produksi yang disalurkan ke pelanggan sudah menghabiskan biaya 70% dari total biaya pembangkitan. Untuk pemakaian pelanggan PLN di Jawa terutama di siang hari butuh waktu 4-5 jam memiliki selisih 25% biaya investasi pada malam hari.
Menyikapi kondisi yang ada, kata HARIADI, PLN hanya bisa meningkatkan pelayanan dan menyiapkan sarana. Sistem yang dibangun, antara lain, Call Center 123, sistem kemudahan pelanggan membayar listrik di mana saja di wilayah Jawa Timur.
“Kita juga mempunyai sistem pelayanan teknis untuk metropolitan Surabaya, Sidoarjo dan Gresik. Jika ada travo meledak, PLN punya level waktu menangani sekitar 3 jam, di sisi tegangan rendah atau instalasi rumah sekitar 5 menit. Untuk penyambungan baru, cukup butuh waktu 0,08 hari sudah tersambung,”ungkapnya.
Sementara SAID UTOMO Ketua YLKI Jawa Timur menilai bisnis kelistrikan di Indonesia ibaratnya di hulu dilepas tapi di hilir di-gandholi. Ini makin membuat keterpurukan di bidang kelistrikan.
Mengacu pada Cina, kata SAID, pemerintah di sana sangat mempermudah pembangunan kelistrikan. “Perlu ada kejelasan dengan pilihan dimana hubungan bisnis ke bisnis seperti antar BUMN harus diatur dan tidak bisa dilepas sesuai harga pasar sehingga tidak rugi,”ujarnya. (tin)
Teks foto :
– Ir HARIADI SADONO
Foto : TITIN suarasurabaya.net
NOW ON AIR SSFM 100

