Telkom dan The China Great Wall Industry Corporation (CGWIC) menjajaki kemungkinan kerjasama melalui satu nota kesepahaman dalam mengembangkan dan membuat satelit telekomunikasi.
Teknologi satelit merupakan salah satu tulang punggung telekomunikasi nasional. Menjelang berakhirnya usia aktif Satelit Telkom-1 milik Telkom pada tahun 2014, mau tidak mau persiapan untuk meluncurkan satelit pengganti sudah mulai dilakukan, ujar MUHAMMAD AWALUDDIN Vice President Public and Marketing Communication PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk, dalam rilisnya yang dikirim pada suarasurabaya.net, Selasa (20/02).
Menurut AWALUDDIN, perkembangan penguasaan teknologi satelit telekomunikasi juga semakin membuat banyak pilihan. Tentunya dengan tujuan untuk mendapatkan satelit yang handal dengan lebih efisien dan efektif. Jika selama ini teknologi satelit telekomunikasi lebih banyak didominasi negara maju di Amerika, Eropa dan Rusia, kini juga muncul Cina sebagai salah satu negara yang diakui penguasaan teknologi tingginya. Untuk menjajagi hal itu, PT. Telkom melakukan kerja sama dengan The China Great Wall Industry Corporation (CGWIC).
CGWIC yang berkantor di District Haidian Beijing ini merupakan perusahaan yang diakui resmi pemerintah Cina sebagai penyedia layanan teknologi luar angkasa. CGWIC berada dibawah Kementerian Industri Luar Angkasa Cina dan dikenal reputasinya sebagai pembuat satelit telekomunikasi dan broadcasting. CGWIC juga memiliki kemampuan untuk meluncurkan sendiri satelit ke Geo Stationary Orbit (GSO) menggunakan roket Long March. CGWIC tercatat telah meluncurkan satelit ke orbit hampir 100 kali sejak pertama kali berdiri pada tahun 1980, menggunakan berbagai tipe roket peluncur yang dikembangkannya.
Telkom sendiri kata AWALUDDIN juga telah berpengalaman di dalam mengoperasikan dan mengelola bisnis satelit komunikasi. Sejauh ini, TELKOM telah dan sedang mengoperasikan 9 satelit sejak generasi Palapa A hingga kini beroperasi Satelit Telkom-1 dan Telkom-2. Satelit Telkom-1 diluncurkan pada tanggal 13 Agustus 1999, dan Satelit Telkom-2 pada tanggal 17 Nopember 2005. Kedua satelit milik Telkom ini merupakan satelit komunikasi geosynchronous (Geo) dan masing-masing memiliki kapasitas 24 transponder standard dan beroperasi pada frekuensi C-band. Masa usia aktif keduanya adalah 15 tahun sejak diluncurkan. Dari posisi orbitnya di posisi 118 derajat bujur timur dan 108 derajat bujur timur, kedua satelit Telkom ini cakupan pelayanannya bisa menjangkau wilayah Asia Tenggara, sebagian India, dan utara Australia.
Dengan kemampuan dan pengalaman-pengalaman yang dimiliki bersama itu, Telkom dan CGWIC menjajaki kemungkinan kerja sama melalui satu nota kesepahaman dalam mengembangkan dan membuat satelit telekomunikasi. Untuk itu, MoU antara Telkom dan CGWIC ini ditandatangani ARWIN RASYID Direktur Utama/CEO Telkom dan WANG HAIBO Presiden Direktur CGWIC di Grand Hyatt Beijing pada tanggal 16 Pebruari 2007 lalu.
“Lingkup kerjasama dalam MoU tersebut meliputi studi kemungkinan CGWIC untuk menyediakan pelayanan untuk desain, pabrikasi, perakitan, pengetesan dan peluncuran berbagai jenis satelit untuk orbit geo stasioner,” ujarnya.
Menurut ARWIN RASYID, dalam tahap awal, Telkom dan CGWIC akan membuat tim kerja bersama untuk menentukan spesifikasi teknis dan desain satelit sesuai dengan kebutuhan yang ada. Pengkajian bersama ini dilakukan selama masa kerja awal 1 tahun. Hasil kerja dan kajian tim ini akan disampaikan kepada manajemen kedua perusahaan untuk dikaji aspek finansial dan bisnisnya.
NOW ON AIR SSFM 100
