Minggu, 11 Januari 2026

Dua Siswa Tuna Grahita di Lumajang Tak Ikut UN di SMP Luar Biasa

Laporan oleh Sentral FM Lumajang
Bagikan

Ujian Nasional (UN) hari pertama jenjang SMP di Kabupaten Lumajang, Senin (5/5/2014), tidak hanya diikuti anak didik di sekolah formal saja. Namun diikuti juga oleh siswa berkebutuhan khusus di SMP Luar Biasa Bhakti Wanita di Jl. Veteran, Kecamatan Kota Lumajang. Di sekolah yang lokasinya tidak jauh dari Kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Dispenduk Capil) ini, UN diikuti sebanyak 6 orang siswa.

Dari pantauan Sentral FM, ke-6 siswa berkebutuhan khusus di SMP Luar Biasa ini mengikuti UN di dua ruang berbeda dengan pemantauan pengawas. Satu ruangan, dilaksanakan UN untuk satu siswa yang menyandang tuna netra. Di sana, siswa menempati satu meja yang berhadapan langsung dengan meja pengawas yang terletak persis di hadapannya.

Siswa tuna netra ini, mengikuti UN dengan materi naskah soal yang berbeda dengan peserta formal lainnya. Ia mendapatkan nasakah soal UN yang cukup tebal karena bermaterikan huruf Braille. Naskahnya cukup tebal, sebab menurut tenaga Pengawas Satuan Pendidikan (PSP) di sana, untuk dua poin soal membutuhkan satu lembar naskah UN.

“Memang untuk huruf Braille tidak sama dengan huruf abjad biasa. Satu lembar hanya dicetak untuk dua soal. Karena memang khusus menilik bentuk hurufnya,” kata seorang pengawas UN di SMP Luar Biasa Bhakti Wanita.

Dalam pelaksanaannya, satu siswa tuna netra itu terpantau beberapa kali menanyakan penjelasan soal kepada pengawasnya. Dan, tenaga pengawas pun membantu peserta UN tuna netra ini guna memahami soal yang diujikan.

Hal itu dibenarkan Yuli Sri Rahayu, Spd Kepala Sekolah SMP Luar Biasa Bhakti Wanita ketika ditemui di kantornya. Dikatakannya, siswa tuna netra memang diberikan kemudahan dengan dapat dibantu pengawas untuk memahami penjelasan naskah soal.

“Sebab siswa berkebutuhan khusus, utamanya tuna netra tidak mudah memahami soal yang diujikan. Apalagi, naskah soal itu dicetak dalam huruf Braille. Untuk itu, peserta UN tuna netra boleh dibantu pengawas hanya dengan memberikan penjelasan dan pemahaman soal saja. Namun tidak boleh diberitahu atau petunjuk apaa jawabannya,” kata Yuli Sri Rahayu.

Selain itu untuk peserta UN Tuna Rungu, penyelenggara sesuai aturan juga memberikan taambahan waktu untuk menyelesaikan tugasnya. Jika di sekolah formal diberikan waktu mengerjakan naskah UN dan menyelesaikan LJK sejak pukul 07.00 sampai 09.30, untuk peserta Tuna Netra diberikan tambahan waktu 30 menit hingga pukul 10.00.

“Hal ini sudah menjadi kebijakan dari panitia penyelenggara. Sebab, peserta UN untuk anak didik penyandang Tuna Netra ini memang tidak bisa disamakan dengan mereka-mereka yang normal. Anak didik penyandang Tuna Netra membutuhkan waktu untuk memahaami soal dan mengerjakannya. Metode jawabannya juga berbeda karena menggunakan huruf Braille,” jlentreh Yuli Sri Rahayu.

Sementara itu di satu ruang UN lain di samping ruang yang ditempati peserta Tuna Netra, terdapat 5 siswa peserta UN penyandang tuna rungu. Namun, siswa berkebutuhan khusus dengan Kategori A ini melaksanakan UN tidak jauh berbeda dengan siswa normal lainnya. Mereka mengeerjakan naskah soal sama dengan siswa normal lainnya.

“Sebab, untuk anak didik peserta UN penyandang Tuna Rungu ini kekurangannya hanya pendengaran saja. Jadi, mereka bisa membaca dengan normal dan menjawab di LJK yang sama. Bahkan, untuk peserta UN penyandang Tuna Rungu juga tidak diberikan tambahan waktu mengerjakan soal dan LJK UN. Waktunya sama sampai pukul 09.30 saja. Namun untuk jadwal UN-nya, sama dengan siswa di sekolah formal lainnya,” urai Kepala Sekolaah SMP Luar Biasa Bhakti Wanita Lumajang ini.

Dalam kesempatan yang sama, Yuli Sri Rahayu juga mengungkapkan bahwa, anak didik berkebutuhan khusus di sekolahnya yang telah duduk di kelas 9 (kelas 3 SMP, red) sebenarnya terdapat 8 siswa. Namun, 2 siswa lainnya adalah penyandang Tuna Grahita. Dan, untuk siswa dengan kategori ini masuk klasifikasi sulit mencerna dan memahami soal. Sebab, tingkat intelejensinya memang rendah.

“Untuk itu sesuai regulasi dan aturan yang ada, UN hanya diikuti oleh penyandang Tuna Netra, Tuna Rungu dan Tuna Daksa saja. Sedangkan, anak didik penyandang Tuna Grahita memang tidak diikutkan UN. Jadi, kedua anak didik kami yang Tuna Grahita tidak ikut UN, dan mereka hanya kami ikutkan Ujian Sekolah saja yang telah kami selenggarakan pada 17 sampai 20 April lalu,” demikian pungkas Yuli Sri Rahayu. (her/ipg)

Teks Foto :
– Pelaksanaan Ujian Nasional (UN) di SMP Luar Biasa Bhakti Wanita Lumajang.
Foto : Sentral FM

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Kebakaran Rumah di Pengampon Surabaya

Banjir Menggenangi Sidosermo 4

Kecelakaan Bus Vs Truk Gandeng di Jembatan Suramadu

Surabaya
Minggu, 11 Januari 2026
24o
Kurs