Noxa, band grindcore ini kembali meluncurkan single terbaru berjudul Tanah Air Beta. Berkisah tentang keresahan Noxa pada saudara-saudara kita di Indonesia yang nasibnya terabaikan. Khususnya yang tinggal diperbatasan.
Dengan warna vokal nge-growhl ciri khas band-band beraliran grindcore ini menyuarakan ketidakadilan, penderitaan dan keterabaian rakyat di negerinya sendiri.
“Masyarakat yang tinggal di perbatasan Indonesia, ternyata nasibnya terabaikan. Padahal mereka juga berjuang untuk Indonesia. Sayangnya nasib mereka tidak beruntung. Mereka ditelantarkan begitu saja,” ujar Tony vocalist Noxa, saat dikonfirmasi suarasurabaya.net, Sabtu (23/5/2015).
Digawangi Tonny (vocal), Ade (Guitar), Alvin (Drum) dan Dipa (Bass), kelompok band grindcore asal Jakarta yang berdiri pada Maret 2002 ini adalah satu di antara 5 band paling dikenal di luar negeri dibanding di negerinya sendiri.
Sebuah pentas band metal berkelas internasional yang digelar di Helsinki, Finlandia, dan menghadirkan band-band sekelas Slayer dan Dimmu Borgir, juga mengundang Noxa.
Hadirnya Noxa di festival musik metal tahunan paling anyar itu mendapat dukungan penuh dari Duta Besar Harry Purwanto dan staf KBRI Helsinki yang hadir langsung ke lokasi ketika itu.
Di single terbarunya itu, Tanah Air Beta, Noxa tidak ingin menyampaikan kecintaannya pada negeri ini dengan melodi yang mendayu-dayu. Singkat, padat dan jelas. Karena Noxa penganut straight old school grindcore.
“Kecintaan, kepedulian, atau kebanggaan termasuk kebencian memang bisa dituangkan dalam bentuk atau menggunakan media seni. Apa saja. Dan kebetulan grup band ini memilih aliran grindcore itu. Tapi liriknya penuh dengan kritik dan kepedulian. Boleh-boleh saja,” ujar Mahardi sound enginering.(tok)
NOW ON AIR SSFM 100
