Joko Widodo (Jokowi) Presiden menyampaikan kepada Megawati Soekarno Putri Ketua Umum PDI Perjuangan bahwa kondisi ekonomi Indonesia saat ini stabil meskipun perekonomian dunia sedang turun.
“Ibu Mega, perlu kami sampaikan bahwa Alhamdulillah ekonomi Indonesia tetap stabil di tengah perekonomian dunia yang terus menurun dan bergejolak,” ujar Jokowi dalam pidatonya di Rakernas I PDI Perjuangan di JIExpo, Kemayoran, Jakarta Pusat, Jumat (10/1/2020).
Kata Presiden, pertumbuhan Ekonomi Indonesia di 2019 masih tumbuh diatas 5 persen lebih sedikit, dan 5 tahun lalu tumbuh di atas 5 persen. Kemiskinan turun dari 11 persen menjadi 9,41 persen. Ketimpangan gini rasio dari 0,41 menjadi 0,38. Tetapi masalah terbesar yang dialami Indonesia bertahun-tahun adalah masalah defisit transaksi berjalan (CAD). Ini terjadi, karena masalah impor yang masih besar, sehingga ekspor yang harus terus ditingkatkan.
“Artinya impornya masih lebih besar dari ekspor. Oleh sebab itu, saya ingin menyampaikan mengenai transformasi ekonomi. Dari ekonomi kita yang bertahun tahun ebrasi komoditas, bahan mentah yang selalu kita ekspor, raw material, sehingga ke depan kita ingin semuanya diolah minimal menjadi barang setengah jadi atau barang jadi melalui hilirasisasi industri seperti yang disampaikan Bu Mega,” jelas Presiden
Jokowi mencontohkan CPO (Crude Palm Oil). Indonesia sekarang memiliki 13 juta kebun kelapa sawit yang setiap tahun berproduksi. Sekarang kurang lebih 46 juta ton pertahun.
“Bayangkan kalau itu diangkut oleh truk yang kecil berapa juta truk, kalau satu truk 4 ton yang kita butuh 11 juta truk untuk angkut. Bayangan betapa produksi kita besar,” kata Presiden.
Jokowi tidak ingin mengekspor CPO terus menerus. Harus mulai diubah menjadi barang setengah jadi atau barang jadi. Dan ini yang telah dilakukan pemerintah. Karena kalau tidak, Indonesia selalu dimainkan pasar.
“Uni Eropa memunculkan isu tidak ramah lingkungan. Sebetulnya apa sih mereka ngomong begitu, karena sawit ini bisa lebih murah dari minyak bunga matahari mereka. Ini hanya pernag bisnis antarnegara tapi dipakai alasan terus. Kamu nggak beli CPO kita tidak apa-apa karena kita telah menjadikan minyak sawit kita menjadi B20, dan tahun ini B30,” tegasnya.
“Ya kita pakai sendiri saja seperti tadi yang disampaikan Ibu Mega. Dan bayangkan, dengan menjadikan CPO kita ke B30, kita menghemat kurang lebih Rp 110 Triliun per tahun. Dan nantinya kalau sampai kepada B50 yang jelas lebih 20 triliun. yang riset siapa? oleh profesor-profesor di ITB. Bukan dari negara lain. Memang lama, sudah lama di riset namun untuk masuk ke industri, masuk ke hitung-hitungan ekonomi memang baru 2-3 tahun yang lalu ketemunya. Lha kalau ini semua bisa masuk ke B100 saya tak bisa bayangkan bahwa kita sudah tidak impor minyak lagi. Semua yang kita pakai adalah biodiesel. Semuanya,” ujar Presiden.
Artinya , kata Jokowi, biodiesel itu ramah lingkungan. Dan komoditas-komoditas yang lainnya seperti yang kedua,adalah nikel.
“Kita ini sudah ekspor nikel, sudah berapa juta ton selalu bahan mentah. Sejak Januari kemarin stop. Karena strategi besar kita ke depan ingin jadikan nikel Lithium Battery yang dipakai untuk mobil listrik electric vehicle. Karena Indonesia adlaah produsen terbesar nikel,” jelas Jokowi.
Jokowi menjelaskan, dalam memulai ini memang berat tapi, kalau negara tidak memiliki strategi ekonomi besar dalam rangka merancang pembangunan jangka panjang, makaa Indonesia akan menjadi eksportir bahan mentah.
“Ngga akan jadi nikel untuk baterai. Ini riset yang terus kita lakukan agar yang namanya lithium battery dalam 2-3 tahun akan ketemu yang harganya bisa diterima pasar,” jelasnya.
“Yang lain juga banyak, satu persatu akan kita stop, mungkin tahun depan bauksit, tahun depannya timah, Tahun depannya batubara, kopra stop. Ingat kopra, minyak kelapa bisa dijadikan avtur. Ini sudah hampir ketemu. Kalau ini ketemu semua pesawat bisa kita ganti dengan kelapa yang dihasilkan rakyat,” imbuhnya.
Intinya, kata Presiden, seperti yang dikatakan Bung Karno dalam Trisakti-nya, indonesia harus berdikari di bidang ekonomi. Sehingga Indonesia tidak mudah ditekan siapapun, negara manapun.
“Dan kita harus mandiri secara politik berdaulat secara politik. Karena kita memiliki semua yang kita olah sendiri. Berdikari di bidang ekonomi dan berkepribadian dan berkebudayaan. Itu yang diajarkan Bung Karno,” pungkas Jokowi.(faz/iss/ipg)
NOW ON AIR SSFM 100
