Kamis, 5 Februari 2026

An Se Young Sebut Penanganan Cederanya Diabaikan, Kementerian Olahraga Korsel Angkat Bicara

Laporan oleh Ika Suryani Syarief
Bagikan
An Se-young pebulu tangkis Korea Selatan (tengah) peraih medali emas nomor tunggal putri Olimpiade Paris 2024. Foto: PBSI

Kementerian Olahraga Korea Selatan angkat bicara dan siap menyelidiki tuduhan An Se Young, tunggal putri yang sebelumnya mengatakan bahwa ia diabaikan oleh federasi nasionalnya saat cedera.

“Kami berencana untuk memastikan fakta-fakta yang tepat segera setelah Olimpiade berakhir dan meninjau kebutuhan untuk langkah-langkah perbaikan yang tepat berdasarkan temuan tersebut,” kata Kementerian Olahraga Korea Selatan, dikutip Antara dari AFP, Rabu (7/8/2024).

Kementerian juga berencana untuk memeriksa apakah ada area untuk perbaikan dalam manajemen atlet di cabang olahraga lain juga.

Sebelumnya, An mengungkapkan kekesalannya terhadap Asosiasi Bulu Tangkis Korea Selatan (BKA) yang dinilai tidak memberikan dukungan memadai saat ia menderita cedera lulut tahun lalu.

An mengatakan ia harus bertanding sambil menahan rasa sakit karena cedera tersebut dan bahkan awalnya salah didiagnosis mengenai tingkat keparahannya.

“Saya sangat kecewa dengan (asosiasi) selama cedera saya. Saya benar-benar tidak bisa melupakan momen-momen itu,” kata An.

Ia juga menuduh asosiasi tersebut “mengabaikan” tanggung jawabnya.

Hal itu diungkapkan tak lama setelah An memenangkan medali emas Olimpiade Paris 2024, Senin (5/8/2024). Tunggal putri nomor satu dunia itu bahkan mengatakan bahwa ia telah menantikan untuk menang Olimpiade agar suaranya bisa didengar lebih keras oleh pihak-pihak terkait.

Ia juga mengatakan bahwa ia memiliki pandangan untuk tidak melanjutkan kariernya bersama tim nasional.

“Saya pikir mungkin sulit untuk melanjutkan dengan tim nasional setelah momen ini,” kata An

Dalam wawancara terpisah dengan Yonhap, Kantor Berita Korea Selatan, An mengatakan asosiasi telah memutuskan bahwa dia tidak akan berkompetisi dalam ajang-ajang tertentu tanpa memberinya penjelasan apa pun.

Dia lebih lanjut menuduh sistem pelatihan saat ini sudah ketinggalan zaman dan tidak sepenuhnya aman bagi para atlet, mengklaim bahwa sistem tersebut gagal membuat latihan yang aman untuk mencegah dan mengambil tindakan tepat jika terjadi cedera.

“Saya menemukan motivasi saya dalam kemarahan saya saat saya menetapkan tujuan dan mengejar impian saya,” kata An kepada Yonhap.

“Saya ingin suara saya didengar. Dengan kata lain, impian saya adalah (memiliki) ‘suara’ itu,” ujarnya menambahkan.(ant/iss)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Kebakaran Rumah di Pengampon Surabaya

Banjir Menggenangi Sidosermo 4

Kecelakaan Bus Vs Truk Gandeng di Jembatan Suramadu

Surabaya
Kamis, 5 Februari 2026
27o
Kurs