Senin, 2 Februari 2026

Pasar Saham Terpukul, IHSG Ditutup Anjlok 4,88 Persen

Laporan oleh Muhammad Syafaruddin
Bagikan
Ilustrasi. Saham turun. Foto: suarasurabaya.net

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) ditutup anjlok pada perdagangan Senin (2/2/2026), seiring tekanan yang melanda mayoritas bursa saham di kawasan Asia.

IHSG terkoreksi tajam 406,88 poin atau 4,88 persen dan berakhir di level 7.922,73. Sejalan dengan itu, indeks LQ45 yang beranggotakan 45 saham unggulan juga turun 27,29 poin atau 3,27 persen ke posisi 806,24

“Sentimen negatif di antaranya berasal dari koreksi harga komoditas di tingkat global, yang selama ini menjadi penopang penguatan IHSG,” ujar Ratna Lim pakar pasar saham.

Ratna menjelaskan, pelaku pasar juga masih menunggu perkembangan dari upaya Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan BEI yang melakukan pertemuan dengan MSCI, dalam rangka mengembalikan kepercayaan investor global dan membahas reformasi transparansi pasar modal Indonesia.

Di sisi lain, data makro ekonomi domestik, di antaranya Indeks PMI Manufacturing Indonesia mencatatkan kenaikan ke level 52,6 di Januari 2026 dari sebelumnya 51,2, yang mengindikasikan aktivitas pabrik mengalami kenaikan selama enam bulan berturut-turut.

Surplus neraca perdagangan tercatat sebesar 2,52 miliar dolar AS pada Desember 2025, dari sebelumnya 2,24 miliar dolar AS pada periode sama tahun 2024, didorong oleh pertumbuhan ekspor sebesar 11,64 persen (yoy).

Sedangkan, data inflasi berakselerasi menjadi 3,55 persen (yoy) pada Januari 2026, meskipun terjadi deflasi 0,15 persen (yoy) pada Januari 2026.

Dilansir dari Antara, mayoritas indeks bursa kawasan Asia ditutup melemah, pelaku pasar mencermati data aktivitas pabrik China yang meningkat karena produsen mempercepat produksi dan memuat kargo menjelang libur Tahun Baru Imlek.

Pelemahan, di antaranya disebabkan oleh respons negatif dari pencalonan Kevin Warsh sebagai calon Chairman The Fed selanjutnya, kekhawatiran akan adanya bubble pada sektor AI, serta terjadinya aksi jual masif pada emas dan perak.

Sementara itu, tekanan jual pada emas dan perak berlanjut pada perdagangan Senin (2/2/2026), setelah terjadi penurunan tajam pada Jumat (30/1/2026), yang disebabkan oleh penguatan Dolar AS dan aksi “profit taking”.

Dibuka melemah, IHSG betah di teritori negatif hingga penutupan sesi pertama perdagangan saham. Pada sesi kedua IHSG masih betah di zona merah hingga penutupan perdagangan saham.

Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, semua atau sebelas sektor melemah yaitu sektor barang baku turun paling dalam sebesar 10,60 persen, diikuti oleh sektor barang non konsumen dan sektor energi yang turun masing- masing sebesar 7,89 persen dan 7,89 persen.

Adapun saham-saham yang mengalami penguatan terbesar yaitu INTD, SOHO, SWID, EDGE dan NICK. Sedangkan saham-saham yang mengalami pelemahan terbesar yakni CUAN, MBMA, ENRG, GTSI dan MDKA.

Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 2.949.040 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 50,41 miliar lembar saham senilai Rp29,17 triliun. Sebanyak 58 saham naik 720 saham menurun dan 36 tidak bergerak nilainya.

Bursa saham regional Asia sore ini antara lain indeks Nikkei melemah 667,70 poin atau 1,25 persen ke posisi 52.655,19, indeks Hang Seng melemah 611,53 poin atau 2,23 persen ke posisi 26.775,57, indeks Shanghai melemah 102,20 poin atau 2,48 persen ke posisi 4.015,75, dan indeks Straits Times melemah 12,85 poin atau 0,26 persen ke 4.892,27. (ant/ily/saf/ipg)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Kebakaran Rumah di Pengampon Surabaya

Banjir Menggenangi Sidosermo 4

Kecelakaan Bus Vs Truk Gandeng di Jembatan Suramadu

Surabaya
Senin, 2 Februari 2026
24o
Kurs