Selasa, 3 Februari 2026

Inflasi Januari 2026 Tertinggi Sejak Mei 2023, Capai 3,55 Persen

Laporan oleh Muhammad Syafaruddin
Bagikan
Ilustrasi inflasi. Foto: istock

Ateng Hartono Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut tingkat inflasi tahunan (year-on-year/yoy) pada Januari 2026 tercatat sebagai tertinggi setelah sempat menyentuh 4,00 persen pada Mei 2023.

“Inflasi tahunan Januari 2026 sebesar 3,55 persen (yoy) merupakan inflasi yang tertinggi sejak tahun 2023, di Mei 2023 inflasinya kan 4,00 persen (yoy),” kata Ateng Hartono seperti dikutip Antara, Senin (2/2/2026).

Berdasarkan data BPS, usai inflasi tahunan mencapai 4,00 persen yoy pada Mei 2023, tingkat inflasi tahunan belum pernah lagi menyentuh angka tersebut.

Bahkan, tingkat inflasi di atas 3,5 persen hanya tercatat sekali, yakni pada Juni 2023 sebesar 3,52 persen yoy.

Tingkat inflasi tahunan selanjutnya berkisar antara 3,27 persen yoy, yang terjadi pada Agustus 2023, hingga yang terendah sebesar 0,76 persen yoy, yang tercatat pada Januari 2025.

Perekonomian Indonesia bahkan sempat mengalami deflasi secara tahunan, yakni pada Februari 2025 sebesar 0,09 persen yoy akibat diskon tarif listrik yang diberikan pemerintah sebesar 50 persen.

Dengan demikian, tingkat inflasi tahunan pada Januari 2026 sebesar 3,55 persen yoy, yang tercatat sedikit lebih tinggi dari target sasaran pemerintah yaitu 2,5 persen plus minus 1 persen, merupakan capaian tertinggi dalam lebih dari 2,5 tahun terakhir.

Ateng menuturkan inflasi tahunan sebesar 3,55 persen yoy pada Januari 2026 tercermin dari kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) menjadi 109,75 dibandingkan 105,99 pada Januari 2025.

“Berdasarkan kelompok pengeluarannya, inflasi year-on-year (pada Januari 2026) utamanya didorong oleh Perumahan, Air, Listrik, dan Bahan Bakar Rumah Tangga yang mengalami inflasi tinggi, yaitu 11,93 persen. (Kelompok) ini juga memberi andil (inflasi tahunan) cukup tinggi, yaitu 1,72 persen,” jelasnya.

BACA JUGA: BPS Ungkap Penyebab Inflasi Januari 2026 Tembus 3,55 Persen

Kelompok Pengeluaran Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya merupakan penyumbang andil inflasi terbesar selanjutnya, dengan inflasi sebesar 15,22 persen dan andil sebesar 1,00 persen.

Ateng mengatakan komoditas penyumbang andil inflasi tahunan terbesar pada Januari 2026 adalah tarif listrik dengan andil 1,49 persen, emas perhiasan 0,93 persen, ikan segar 0,19 persen, serta beras dan tarif air minum PAM yang masing-masing memiliki andil 0,14 persen.

Sementara itu, Kelompok Pengeluaran Informasi, Komunikasi, dan Jasa Keuangan mengalami deflasi secara tahunan sebesar 0,19 persen dengan andil terhadap inflasi sebesar minus 0,01 persen.

Namun, jika dilihat menurut komponen, Ateng menyampaikan bahwa seluruh komponen mengalami inflasi secara tahunan, dengan inflasi tertinggi dialami oleh komponen harga yang diatur pemerintah (administered price) sebesar 9,71 persen yoy dan memberikan andil 1,77 persen.

Ia menuturkan komoditas dari komponen tersebut yang dominan memberikan andil inflasi pada Januari 2026 adalah tarif listrik, tarif air minum PAM, sigaret kretek mesin (SKM), dan sigaret kretek tangan (SKT).

Sedangkan komponen inti mengalami inflasi tahunan sebesar 2,45 persen yoy dan memberikan andil inflasi sebesar 1,59 persen, dengan komoditas penyumbang inflasi utama yakni emas perhiasan, biaya akademi atau perguruan tinggi, sewa rumah dan mobil.

“Komponen harga bergejolak (volatile food) mengalami inflasi sebesar 1,14 persen (yoy) dengan andil inflasinya 0,19 persen. Nah komoditas yang dominan memberikan andil inflasi adalah beras ya untuk komponen harga bergejolak, daging, ayam ras dan juga bawang merah,” imbuh Ateng. (ant/ily/saf/ipg)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Kebakaran Rumah di Pengampon Surabaya

Banjir Menggenangi Sidosermo 4

Kecelakaan Bus Vs Truk Gandeng di Jembatan Suramadu

Surabaya
Selasa, 3 Februari 2026
24o
Kurs