Selasa, 3 Februari 2026

Dibuka Menguat, Nilai Tukar Rupiah Selasa Pagi Rp16.762 per Dolar AS

Laporan oleh M. Hamim Arifin
Bagikan
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada perdagangan Rabu ditutup melemah 84 poin atau 0,53 persen menjadi Rp15.833 per dolar AS dari sebelumnya sebesar Rp15.749 per dolar AS. Foto: Pixabay

Nilai tukar rupiah mengawali perdagangan Selasa (3/2/2026) pagi dengan penguatan, seiring sentimen pasar yang membaik setelah rilis data inflasi terbaru Badan Pusat Statistik (BPS). Rupiah dibuka naik 36 poin atau 0,21 persen ke level Rp16.762 per dolar AS, dari posisi sebelumnya Rp16.798 per dolar AS.

Josua Pardede Kepala Ekonom Permata Bank menilai data inflasi Januari 2026 memberi sinyal meredanya tekanan harga dalam jangka pendek. Kondisi tersebut turut menenangkan pasar keuangan, termasuk pasar valuta asing.

“Rilis BPS soal inflasi memberi sinyal bahwa tekanan harga jangka pendek mereda karena Januari 2026 mengalami deflasi bulanan 0,15 persen, terutama dipicu turunnya harga pangan seperti cabai merah, cabai rawit, bawang merah, daging ayam ras, dan telur ayam ras,” ujar Josua, seperti dilaporkan Antara.

Menurutnya, deflasi tersebut menurunkan kekhawatiran pasar terhadap lonjakan harga dalam waktu dekat. Namun, di sisi lain, kondisi ini juga membuat ruang kebijakan suku bunga ke depan dinilai lebih longgar, sehingga berpotensi membatasi penguatan rupiah lebih lanjut.

Josua menambahkan, inflasi tahunan masih berada di level 3,55 persen dengan kontributor terbesar berasal dari kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga yang menyumbang andil 1,72 persen. Karena itu, rilis inflasi kali ini lebih mencerminkan proses normalisasi pasca faktor musiman, bukan hilangnya tekanan inflasi sepenuhnya.

Dari sisi eksternal, fundamental rupiah tetap ditopang kinerja neraca perdagangan. Sepanjang Januari hingga Desember 2025, Indonesia mencatat surplus perdagangan sebesar 41,05 miliar dolar AS, sementara pada Desember 2025 surplus mencapai 2,51 miliar dolar AS. Surplus tersebut meningkatkan pasokan devisa dari ekspor dan menjadi bantalan bagi stabilitas rupiah.

“Rilis BPS memang ikut membentuk sentimen, tetapi dampaknya biasanya lebih halus melalui perubahan ekspektasi arah suku bunga dan persepsi stabilitas harga, bukan sebagai pemicu utama pergerakan harian,” kata Josua.

Ia menilai, tekanan yang lebih dominan justru datang dari faktor global. Pergerakan dolar AS, pelemahan harga komoditas, serta sikap hati-hati pelaku pasar menjelang agenda ekonomi global besar masih menjadi perhatian utama.

“Dolar AS sempat menguat saat harga emas dan perak melemah, kemudian penguatannya memudar setelah pasar Eropa dibuka. Pasar juga menanti keputusan suku bunga Bank Sentral Eropa dan Bank Sentral Inggris, laporan tenaga kerja Amerika Serikat, serta rilis kinerja emiten, sehingga pelaku pasar cenderung cepat mengurangi risiko,” ujarnya. (ant/ham)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Kebakaran Rumah di Pengampon Surabaya

Banjir Menggenangi Sidosermo 4

Kecelakaan Bus Vs Truk Gandeng di Jembatan Suramadu

Surabaya
Selasa, 3 Februari 2026
33o
Kurs