Peringatan World Cancer Day setiap 4 Februari seharusnya menjadi alarm keras bagi pemerintah dan masyarakat. Namun di Indonesia, tingginya prevalensi kanker justru masih dibiarkan tanpa langkah mitigasi serius dari negara.
Hal ini ditegaskan Tulus Abadi, Pegiat Perlindungan Konsumen sekaligus Ketua Forum Konsumen Berdaya Indonesia (FKBI).
Dia menyebut kanker kini telah menjadi salah satu “mesin pembunuh” paling mengerikan, bahkan mulai menyasar generasi muda di bawah usia 40 tahun.
“Di Indonesia dan dunia ada empat penyakit tidak menular yang bersifat katastropik, yakni jantung koroner, kanker, stroke, dan diabetes. Tragisnya, penyakit-penyakit ini kini menyerang usia produktif,” kata Tulus dalam refleksi Hari Kanker Sedunia, Rabu (4/2/2026).
Angka Kematian Kanker di Indonesia Mengkhawatirkan
Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dan Globocan 2022, tercatat 408.661 kasus kanker di Indonesia dengan 242.099 kematian. Artinya, tingkat kematian penderita kanker mencapai 59,24 persen.
Prevalensi kanker juga terus meningkat, dari 1,2 per 1.000 penduduk pada 2013 menjadi 1,8 per 1.000 penduduk pada 2018.
Lima jenis kanker yang paling dominan di Indonesia adalah kanker paru, kanker payudara, kanker serviks, kanker kolorektal, dan kanker hati.
Kanker paru menjadi jenis kanker paling mematikan dan paling banyak menyerang laki-laki, dengan usia diagnosis rata-rata 58 tahun, jauh lebih muda dibandingkan rata-rata global.
“Musababnya mudah ditebak. Dua dari tiga laki-laki dewasa di Indonesia adalah perokok aktif,” ujar Tulus.
Rokok dan Gaya Hidup Tidak Sehat Jadi Faktor Utama
Menurut Tulus, faktor utama melonjaknya prevalensi kanker adalah gaya hidup dan pola konsumsi yang tidak sehat, termasuk di kalangan generasi Z. Mulai dari malas bergerak, minim konsumsi serat, hingga tingginya konsumsi makanan ultra proses dan minuman berpemanis dalam kemasan (MBDK).
Ia menegaskan, rokok menjadi kontributor terbesar risiko kanker, yakni 35,5 persen, disusul kurang aktivitas fisik (21,5 persen) dan diet tidak seimbang (17,1 persen).
“Prevalensi perokok nasional sudah mencapai 32 persen, dan yang lebih mengkhawatirkan, prevalensi merokok pada anak-anak mencapai 7,4 persen,” tegasnya.
Bahkan, jika tidak ada penguatan pencegahan dan deteksi dini, jumlah kasus kanker di Indonesia diprediksi melonjak lebih dari 70 persen pada 2050.
Negara Dinilai Ambigu dan Tunduk pada Oligarki Industri
Tulus menilai, tingginya angka kanker ironisnya tidak diiringi dengan kebijakan tegas dari pemerintah. Hingga Januari 2026, pemerintah belum merampungkan Rapermenkes pengendalian makanan dan minuman tinggi gula, garam, dan lemak (GGL), meski menjadi mandat PP Nomor 28 Tahun 2024 tentang Kesehatan.
Selain itu, rencana penerapan cukai minuman berpemanis dalam kemasan (MBDK) juga ditunda, sementara regulasi pengendalian tembakau dinilai mandek.
“Pemerintah terkesan ambigu, bahkan melakukan pembiaran. Negara lebih berpihak pada kepentingan oligarki industri makanan, minuman, dan rokok, daripada melindungi kesehatan warganya,” kritik Tulus.
Seruan: Jangan Jadikan Hari Kanker Sekadar Seremoni
Ia menegaskan, World Cancer Day seharusnya menjadi momentum lompatan besar untuk menurunkan prevalensi kanker, bukan sekadar seremoni tahunan.
“Pengendalian ketat konsumsi gula, garam, lemak, serta rokok harus menjadi prasyarat utama. PP 28/2024 sangat mendesak untuk benar-benar diberlakukan,” katanya.
Meski demikian, Tulus mengingatkan masyarakat agar tidak sepenuhnya bergantung pada negara.
“Masyarakat harus melindungi diri dan keluarganya sendiri. Kurangi makanan tinggi GGL, aktif bergerak, konsumsi serat dan buah, serta yang paling penting: jangan merokok atau menjadi perokok pasif. Mengandalkan negara saat ini, ibarat menggantang asap,” pungkasnya.(faz/bil/ipg)
NOW ON AIR SSFM 100
