Kamis, 5 Februari 2026

Alasan Anak SD di NTT Akhiri Hidup Masih Didalami KPPPA dan Polisi

Laporan oleh Akira Tandika Paramitaningtyas
Bagikan
Arifatul Choiri Fauzi Menteri PPA. Foto: Antara

Alasan Y (10), siswa Sekolah Dasar (SD) di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang mengakhiri hidup, masih didalami oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) dengan menggandeng pihak kepolisian.

Menurut Arifatul Choiri Fauzi Menteri PPA, hingga saat ini pihaknya masih belum mengetahui jelas alasan yang melatarbelakangi perbuatan Y. Terlebih, tidak ditemukan kekerasan fisik di tubuh korban.

“Sementara kalau kekerasan psikis, ini yang kami perdalam. Saat ini kami masih melakukan proses pendalaman, kira-kira apa yang menyebabkan si anak sehingga mengambil keputusan untuk melakukan hal yang sangat tidak diinginkan oleh kita semua,” katanya, melansir Antara, Kamis (5/2/2026).

Arifatul Choiri Fauzi Menteri PPA. Foto: Antara

Selain mendalami adanya kekerasan psikis yang dialami korban, Fauzi juga akan mencari tahu hal-hal apa yang menginspirasi korban melakukan hal tersebut.

“Kemudian yang kedua, dia terinspirasi dari apa, sehingga melakukan hal ini. Ini yang sedang kami coba dalami,” tambahnya.

Adanya kejadian ini, membuat Fauzi kembali menegaskan agar setiap kabupaten/kota meninjau ulang implementasi sistem perlindungan anak yang dijabarkan dalam Kabupaten/Kota Layak Anak (KLA).

“Kami menyampaikan duka cita yang mendalam kepada keluarga korban. Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa penguatan sistem perlindungan anak melalui implementasi kebijakan Kabupaten/Kota Layak Anak (KLA) sangat diperlukan untuk memastikan setiap anak di Indonesia dapat mengikuti pendidikan dengan baik, bersekolah dengan aman dan nyaman,” ungkapnya.

Fauzi melanjutkan, Kementerian PPPA mendorong kabupaten/kota untuk memastikan kebijakan KLA dapat diterapkan secara konsisten dan berkelanjutan.

Sementara tim layanan SAPA 129 Kementerian PPPA telah berkoordinasi dengan UPTD PPPA Kabupaten Ngada, Polres Ngada, dan Polda NTT, terkait penanganan kasus ini.

Mensesneg Ingatkan Kades Aktif Pantau Kelompok Rentan

Prasetyo Hadi Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) merasa prihatin mendengar kabar Y (10) nekat mengakhiri hidupnya, beberapa hari lalu.

Aksi nekat itu diduga dipicu hal sepele, yaitu tidak punya uang buat membeli buku dan alat tulis keperluan sekolah.

Dalam keterangannya, Rabu (4/2/2026), di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Prasetyo mengatakan, Pemerintah menjadikan peristiwa itu sebagai bahan evaluasi menyeluruh atas kebijakan pengentasan kemiskinan.

Prasetyo Hadi Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg). Foto: Istimewa

Untuk mencegah kejadian serupa, Mensesneg mengingatkan kepala desa lebih aktif memantau kondisi kelompok masyarakat rentan, terutama yang belum mendapatkan bantuan sosial dari Pemerintah.

Menurutnya, langkah proaktif di tingkat desa dan kelurahan akan membantu Pemerintah Pusat mempercepat pengentasan kemiskinan, sekaligus menjamin kehadiran Negara buat masyarakat yang kurang mampu secara ekonomi.

“Kepala desa atau kepala dusun yang terus-menerus melakukan monitoring dan melaporkan manakala ada warganya yang belum termasuk atau belum tercatat sebagai penerima manfaat dari program-program pemerintah,” ujarnya.

Lebih lanjut, Mensesneg menyebut pihaknya juga berkoordinasi dengan Abdul Mu’ti Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah karena kasus itu menimpa anak SD.

Dia bilang, edukasi dan peran guru di sekolah juga merupakan faktor penting. Sehingga, para siswa mau bercerita kalau ada permasalahan.

Di tempat yang sama, Saifullah Yusuf Menteri Sosial (Mensos) juga menyampaikan keprihatinannya atas kasus anak SD bunuh diri di NTT.

Kejadian tragis yang dipicu faktor keterbatasan ekonomi, harus jadi atensi seluruh elemen masyarakat.

“Tentu kita prihatin, turut berduka. Tentu ini menjadi perhatian, menjadi atensi kita bersama,” sebutnya.

Kemudian, Gus Ipul menyatakan perlu ada pendampingan khusus buat keluarga yang masuk kategori miskin.

Mensos juga menekankan pentingnya penguatan data untuk merehabilitasi keluarga yang memerlukan pemberdayaan.

Sebelumnya pada Kamis (29/1/2026) Y (10) mengakhiri hidupnya dengan meninggalkan sepucuk surat untuk ibundanya.

Dalam surat itu, korban menumpahkan kekecewaannya menggunakan bahasa daerah dan menyebut ibunya pelit.

Selama ini korban tinggal bersama neneknya, sementara ibunya tinggal di kampung lain bersama empat saudara korban. Sedangkan ayah kandungnya pergi merantau ke Kalimantan saat korban masih di dalam kandungan dan tak pernah kembali.(ant/kir/faz)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Kebakaran Rumah di Pengampon Surabaya

Banjir Menggenangi Sidosermo 4

Kecelakaan Bus Vs Truk Gandeng di Jembatan Suramadu

Surabaya
Kamis, 5 Februari 2026
25o
Kurs