Taman Budaya Provinsi Jawa Timur menggelar pertunjukan Wayang Topeng Panji di Pendopo Cak Durasim, Surabaya pada Selasa (10/2/2026).
Deddy Hariyono Kepala UPT Taman Budaya Jawa Timur mengatakan, pagelaran wayang topeng panji bukan sekadar pertunjukan, tetapi bagian dari upaya menjaga warisan budaya agar tetap hidup dan relevan di tengah masyarakat, khususnya generasi muda, sekaligus penguatan kapasitas dokumentasi kebudayaan daerah.
“Tugas kita adalah bagaimana memperkenalkan, mengembangkan, dan membuat seni budaya Jatim menjadi yang terbaik. Tidak hanya dikenal di daerah, tapi juga dilirik secara nasional dan internasional,” katanya.
Dalam pagelaran itu, Candrasmara dipilih sebagai lakon karena kisahnya yang universal tentang percintaan, pengorbanan, dan nilai-nilai kehidupan. Cerita itu mengisahkan tentang perjalanan cinta Raden Panji Asmoro Bangun (Inu Kertapati) dan Dewi Sekartaji (Galuh Candrakirana) dengan segala rintangan dan lika-likunya melalui tarian topeng yang penuh makna, gamelan yang mengalun dinamis, dan narasi yang dibawakan oleh dalang, nilai-nilai kesetiaan, keteguhan hati, dan kebijaksanaan akan disampaikan dengan apik.
Pagelaran itu, menampilkan Grup Seni Tari dari Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta (STKW) Surabaya yang juga disaksikan oleh perwakilan mahasiswa dari Prancis hingga Hong Kong. Kolaborasi antara seniman senior dan generasi penerus itu, didorong agar bisa menampilkan pertunjukan yang autentik dan dinamis.
Dalam kesempatan itu, ia mengatakan bahwa pagelaran itu juga bagian dari rangkaian workshop pendokumentasian warisan seni budaya yang digelar Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jatim pada 2026.
“Topeng Panji ini kami jadikan objek dalam workshop dokumentasi. Peserta dilatih membuat video pendek atau dokumenter dengan kualitas yang baik, dan objeknya adalah kebudayaan,” ujarnya.
Workshop tersebut, diikuti oleh peserta dari unsur humas dan tim dokumentasi dinas kebudayaan pariwisata kabupaten/kota se-Jawa Timur. Program itu bertujuan meningkatkan kapasitas SDM daerah agar mampu mendokumentasikan dan mempromosikan kekayaan budaya lokal secara profesional dan berkelanjutan.
Dalam satu rangkaian kegiatan, Taman Budaya Jatim tidak hanya menggelar pelatihan teknis, tetapi juga membuka ruang apresiasi publik melalui pagelaran seni yang dapat dinikmati langsung oleh masyarakat.
“Dalam satu kegiatan, kami bisa meningkatkan kapasitas SDM dokumentasi sekaligus melibatkan masyarakat. Objek yang didokumentasikan juga bisa dinikmati langsung oleh publik,” tuturnya.
Selain peningkatan kapasitas, ia menyebut bahwa kegiatan itu juga menjadi sarana memperkenalkan ragam seni budaya Jatim yang memiliki potensi besar untuk dikenal di tingkat nasional hingga internasional.
Workshop yang berlangsung pada 10-11 Februari 2026 itu, untuk hari pertama diisi dengan pemaparan materi dan praktik pengambilan gambar di lapangan, sementara hari kedua difokuskan pada presentasi dan penilaian hasil karya peserta oleh para narasumber.
“Hasil dokumentasi peserta nanti akan kami unggah di kanal YouTube resmi Taman Budaya Jatim. Ke depan, mereka juga kami dorong untuk mengembangkan dan mempromosikan budaya di daerah masing-masing,” ucapnya.
Pihaknya berharap, peran peserta workshop ke depan bisa sejalan dengan peran Taman Budaya Provinsi Jatim, yakni menjadi motor penggerak penguatan dan pembesaran seniman lokal di tingkat kabupaten dan kota. (ris/saf/ipg)
NOW ON AIR SSFM 100
