Yulius Fang pakar fengshui mengungkapkan, sejumlah jenis makanan yang umum disajikan di rumah masyarakat Tionghoa saat merayakan Tahun Baru Imlek memiliki makna filosofi. Beberapa makanan tersebut di antaranya seperti kue nastar, kue lapis, dumpling (pangsit), dan kue keranjang.
Yulius mengatakan, kue nastar melambangkan kemakmuran, keberuntungan, serta kekayaan. Makna ini disandingkan pada kue nastar karena dalam bahasa Hokkien, nanas dikenal sebagai ‘ong lai’ yang terdengar seperti kemakmuran datang.
“Jadi ‘ong’ itu dimaknai adalah suatu hal yang hebat, berkuasa, makmur dan sebagainya. Ditambah lai, artinya datang seperti itu. Dan ini diartikan bahwa mereka yang menggunakan ‘ong lai’ ini, kalau dibuat sembayang itu supaya tahun ini pokoknya saya berkembang, hebat, makmur seperti itu,” kata Yulius, Rabu (11/2/2026) seperti dikutip Antara.
Yulius mengatakan nastar dengan isian nanas yang disajikan di meja diharapkan dapat menjadi simbol kemakmuran dan kehidupan yang bertumbuh hebat pada siapa saja yang memakannya.
BACA JUGA: 3 Hidangan Khas Imlek yang Penuh Makna Simbolis
Makanan lain yang juga sering ada pada saat perayaan Imlek adalah kue lapis, yang dijadikan simbol dan harapan bahwa rezeki akan datang berlimpat ganda.
Lebih lanjut, kata Yulius ada juga dumpling atau pangsit yang mencerminkan suasana Imlek karena memiliki sejarah pada masa lalu di China. Saat perayaan sincia atau Imlek bertepatan dengan musim dingin sehingga bahan makanan seperti sayur dan buah sulit didapat.
Salah satu bahan makanan yang mudah dibuat adalah adonan tepung dan daging sehingga dumpling lebih mudah diolah untuk dimakan pada saat hari raya.
Yulis menambahkan satu lagi makanan yang ada pada perayaan Imlek adalah kue keranjang yang populer sebagai hantaran kepada sanak saudara. Namun dalam tradisi masyarakat Tionghoa, kue keranjang yang disajikan di meja tamu hanya boleh dimakan oleh tuan rumah dan bukan untuk dimakan tamu saat berkunjung
“Jadi meskipun kue keranjang disediakan untuk disuap, tapi kue keranjang itu kalau kamu lihat, tidak untuk dimakan oleh tamu yang datang ke rumah pas pada saat silaturahmi sincia, enggak. Tapi dimakan oleh tuan rumah sendiri,” jelasnya.
Ia menjelaskan hal ini karena kue keranjang yang ada biasanya masih basah atau terlalu lengket untuk disajikan kepada tamu secara langsung, sehingga harus ditunggu beberapa hari setelahnya sampai agak keras. Namun kue keranjang boleh diberikan kepada tamu sebagai hantaran atau hadiah yang melambangkan kebersamaan.
Untuk memberikan hantaran pada yang merayakan Imlek selain kue keranjang, Yulius mengatakan saudara atau kerabat bisa memberikan hadiah berupa buah jeruk atau apel, atau boleh langsung memberikan angpao.
Pada keluarga terdekat misalnya anak ke orang tua, biasa ada tradisi menghantarkan kue keranjang, kue-kue atau minuman pada orang tua atau mertua, agar saat ada tamu yang berkunjung tuan rumah sudah memiliki makanan dan tamu tidak perlu membawa makanan lagi.(ant/ily/ham)
NOW ON AIR SSFM 100
