Kamis, 12 Februari 2026

Mendag Imbau Produsen Perbanyak Minyak Goreng Second Brand untuk Perluas Pilihan Selain MinyaKita

Laporan oleh Billy Patoppoi
Bagikan
Budi Santoso Menteri Perdagangan (Mendag) Republik Indonesia di Palembang, Kamis (12/2/2026). Foto: Antara

Budi Santoso Menteri Perdagangan (Mendag) mengimbau para produsen minyak goreng untuk turut memproduksi minyak goreng second brand, guna memperluas pilihan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Mendag mengatakan, apabila produksi minyak goreng second brand semakin banyak, maka masyarakat tidak hanya bergantung pada satu merek untuk mendapatkan minyak goreng dengan harga terjangkau.

Menurutnya, minyak goreng second brand merupakan pendamping MinyaKita, minyak goreng kemasan sederhana milik Kemendag yang bertujuan menyediakan minyak goreng rakyat.

“Produksi MinyaKita sangat banyak sangat berlimpah,” kata Budi Santoso di Palembang, Kamis (12/2/2026) yang dikutip Antara.

Karena itu, ia berharap produsen dapat memperbanyak produksi second brand dari MinyaKita, guna menjaga ketersediaan pasokan serta menghindari ketergantungan pasar pada satu produk saja.

Sebelum program MinyaKita berjalan, jumlah merek second brand tercatat bisa mencapai sekitar 50 jenis. Namun, jumlah tersebut menyusut karena banyak produsen beralih fokus memproduksi MinyaKita.

Budi Santoso juga menekankan bahwa MinyaKita merupakan bagian dari kebijakan domestic market obligation (DMO), yang volumenya bergantung pada kinerja ekspor. Dalam skema ini, produsen diwajibkan memasok kebutuhan dalam negeri sebelum melakukan ekspor.

Ia menilai, jika produksi second brand ditingkatkan, maka kebutuhan pasar tetap dapat terpenuhi meski distribusi MinyaKita mengalami kendala.

Saat ini, minyak goreng second brand sebenarnya sudah tersedia dalam berbagai kemasan dan merek, mulai dari 250 mililiter hingga 500 mililiter, dengan variasi harga yang beragam.

Namun dalam perkembangannya, MinyaKita kerap menjadi indikator tunggal ketersediaan dan stabilisasi harga minyak goreng. Akibatnya, ketika MinyaKita tidak tersedia di pasaran, muncul persepsi bahwa minyak goreng langka, padahal merek lain masih tersedia.

Sementara itu, Kanna Direktur Utama PT Indokarya Internusa Palembang memastikan stok bahan baku untuk produksi minyak goreng dalam kondisi aman.

Saat ini, kapasitas produksi perusahaan mencapai sekitar 72.000 liter per hari atau setara 6.000 dus per hari, dengan isi 12 pak atau 12 liter per dus.

Untuk distribusi, sekitar 80 persen produk disalurkan ke wilayah Sumatera Selatan dengan menggandeng distributor serta Bulog. Sebagian lainnya didistribusikan ke Jambi dan sejumlah provinsi di sekitar Sumatera Selatan hingga ke wilayah lainnya.

“Stok bahan baku juga aman saat ini, hanya saja harganya memang terus naik dari waktu ke waktu,” ujar Kanna. (ant/bil/ham)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Kebakaran Rumah di Pengampon Surabaya

Banjir Menggenangi Sidosermo 4

Kecelakaan Bus Vs Truk Gandeng di Jembatan Suramadu

Surabaya
Kamis, 12 Februari 2026
27o
Kurs