Kerja sama antara Bank Jatim dan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) resmi terjalin untuk menggerakkan roda ekonomi dari level bawah.
Pembaruan perjanjian kerja sama antara Bank Jatim dan Kemendes PDTT ini, diharapkan tidak hanya sebatas seremonial saja, melainkan kelanjutan nyata dari program-program yang telah berjalan.
Winardi Legowo Direktur Utama Bank Jatim menerangkan, fokus utama dalam kerja sama ini cukup jelas yakni, membangun ekosistem ekonomi desa yang tangguh dan mandiri.
Tujuan ini, kata Winardi, dapat diwujudkan lewat empat poin krusial yang menjadi landasan. Di antaranya, integrasi data dengan memanfaatkan informasi data pedesaan untuk memetakan potensi ekonomi.
“Kemudian yang kedua, memberikan pendampingan khusus untuk memajukan hasil kebun desa agar lebih bernilai jual. Ketiga, pemanfaatan produk-produk Bank Jatim untuk desa,” katanya, Kamis (12/2/2026).
Sedangkan yang terakhir, mengajak masyarakat desa lebih melek tentang perbankan dan memberikan akses pembiayaan yang aman.
Sementara FX Nugroho Setijo Nagoro Direktur Jenderal Pembangunan Desa dan Perdesaan (Ditjen PDP) Kemendes PDTT mengungkapkan bahwa penerapan kerja sama ini dipastikan langsung menyentuh titik-titik pedesaan.
”Ekonomi desa itu butuh ekosistem yang kuat. Kehadiran Bank Jatim di sini untuk memperkuat itu, mulai dari literasi, pembiayaan, hingga peningkatan kapasitas distribusi barang dan jasa,” tambahnya.
Adapun pemilihan Bank Jatim sebagai mitra utama bukan tanpa alasan. Dia mengatakan kalau Bank Jatim memiliki kedekatan psikologis dan nature yang sama dengan masyarakat desa.
Karena pada hakikatnya, bank daerah adalah milik daerah. Sehingga, kata dia, kontribusinya dalam membangun desa dinilai sangat kontekstual dan tepat sasaran.
Menurut Nugroho, meski saat ini masyarakat disuguhkan banyak pilihan perbankan, mereka tetap membutuhkan mitra yang benar-benar memahami karakteristik wilayah itu.
Dengan adanya pendampingan dari Kemendes PDTT dan dukungan finansial dari Bank Jatim, warga desa kini memiliki pilihan alternatif yang lebih baik untuk mendukung kebutuhan hidup maupun pengembangan usaha mereka.
”Secara psikologis, masyarakat akan lebih mendukung karena merasa memiliki. Ini adalah kolaborasi saling menguntungkan untuk memperkuat ekonomi daerah,” tutupnya.(kir/bil/ham)
NOW ON AIR SSFM 100
