Minggu, 1 Maret 2026

Perdagangan Global Berpotensi Lumpuh Imbas Meningkatnya Eskalasi Konflik AS-Israel dan Iran

Laporan oleh Risky Pratama
Bagikan
Ilustrasi peta Selat Hormuz. Foto: India Today

Satria Unggul Wicaksana, Pakar Hukum Internasional Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura) mengatakan, memanasnya eskalasi konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran berpotensi melumpuhkan perdagangan global.

“Ini tidak hanya masalah perang, tapi akan melumpuhkan sisi ekonomi dan perdagangan global, dan ini akan membawa krisis ekonomi dan perdagangan dunia,” katanya kepada suarasurabaya.net, Minggu (1/3/2026).

Dalam skala yang lebih cepat, menurutnya dunia berpotensi mengalami krisis energi cukup parah karena pasokan energi Timur Tengah yang biasa menyuplai berbagai negara di Eropa dan Asia tersendat lantaran tidak bisa melewati Selat Hormuz yang sedang ditutup.

“Di mana Selat Hormuz itu berada di bawah yuridiksi laut dari Iran, dan tentu Iran tidak akan tinggal diam dan dia akan melakukan blokade yang demikian signifikan. Ini juga ada di Terusan Suez yang ada di Mesir ya, dengan senjata yang dimiliki ini tentu akan melumpuhkan lebih dari 30 persen jalur perdagangan dunia,” sebutnya.

Satria mengingatkan, dampak memanasnya konflik Amerika Serikat, Israel, dan Iran tidak hanya sebatas potensi terjadi perang, melainkan juga bisa melumpuhkan perdagangan global.

“Itu akan membawa krisis ekonomi dan perdagangan dunia yang jauh lebih masif kalau Iran kemudian dengan kekuatannya akan menjalankan serangan kepada pos-pos vital dari jalur-jalur perdagangan dunia,” ucapnya.

Pada kesempatan itu, dia juga menilai situasi tidak aman bukan hanya berada di kawasan Timur Tengah, tetapi juga berpotensi terjadi secara global.

Sehingga, kondisi tersebut menuntut negara-negara lain agar tidak terlibat konflik dan tidak menjadikan Iran menjadi arena perang.

“Sebelumnya Keir Stremer Perdana Menteri UK menyatakan akan turun untuk membantu menyelamatkan warga Iran dan lain sebagainya, ini tanda-tanda banyaknya negara-negara kuat akan menjadikan Iran sebagai battleground berkaca dari konflik bersenjata sebelumnya di Suriah misalkan, bagaimana situasinya hingga kemudian luluh lantah apa yang terjadi di rezim Bashar Al-Assad. Itu menunjukkan situasi wilayah yang dijadikan arena perang dari pihak-pihak yang berkekuatan dari sisi militer ini akan memperparah situasi kondisi dan juga mengorbankan warga sipil,” jelasnya.

Apalagi, lanjut dia, peluang perang dunia III juga terbuka seiring dengan posisi Iran tidak berdiri tunggal, melainkan beraliansi dengan negara-negara lain seperti Rusia, Tiongkok, Korea, serta negara-negara lain yang melawan liberalisme Amerika Serikat.

“Atau mungkin Iran akan bergerak sendiri melawan serangan yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel. Sehingga, itu akan memunculkan konflik lain,” imbuhnya.

Dengan kondisi itu, Satria menekankan pentingnya upaya yang lebih kuat dari Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) melalui Dewan Keamanan agar berupaya mengakhiri konflik bersenjata tersebut, bukan hanya dengan desakan, tetapi juga tekanan secara masif.

“Mendorong pemimpin-pemimpin dunia yang memiliki kekuasaan di tangannya ada senjata pemusnah massal, di tangannya ada mara bahaya yang sangat besar, itu untuk menahan diri ya, karena efek dari perang baik negara yang terlibat ya involved in the battlefield ya di dalam arena perang maupun yang tidak itu semuanya sama-sama terdampak,” ucapnya.

Satria berharap, upaya perdamaian bisa diwujudkan agar eskalasi tidak meningkat dan berdampak luas pada berbagai negara lainnya di dunia.

“Tentu kita tidak ingin eskalasi perang ini semakin naik dan itu merugikan masyarakat dunia,” pungkasnya.(ris/bil/rid)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Kebakaran Rusunawa Sombo Surabaya

Kebakaran Rumah di Pengampon Surabaya

Banjir Menggenangi Sidosermo 4

Surabaya
Minggu, 1 Maret 2026
32o
Kurs