Kamis, 5 Maret 2026

Menko Perekonomian: Revisi outlook Peringkat Utang Indonesia Dorong Pemerintah Perkuat Ekonomi

Laporan oleh Lea Citra Santi Baneza
Bagikan
Airlangga Hartarto Menteri Koordinator Bidang Perekonomian. Foto: Antara

Airlangga Hartarto Menteri Koordinator Bidang Perekonomian menilai revisi outlook (prospek) peringkat utang Indonesia mendorong pemerintah memperkuat fundamental ekonomi, seperti penerimaan negara.

Kata dia, Coretax jadi salah satu cara pemerintah memperkuat ekonomi. Katanya pemerintah bakal terus mengawal implementasi sistem administrasi perpajakan berbasis teknologi tersebut agar rasio pajak (tax ratio) bisa meningkat dan menopang ketahanan fiskal.

“Itu (Fitch Ratings) untuk mengingatkan Indonesia apa yang harus kita pelajari ke depan. Dan tentu beberapa hal yang kita lihat perlu kita perkuat adalah di segi penerimaan. Nah, pemerintah sudah paham itu dan oleh karena itu salah satunya adalah dengan Coretax yang kemarin sudah didorong di Kementerian Keuangan,” kata Airlangga dalam konferensi pers Pembekalan Nasional Talenta Semikonduktor 2026 di Jakarta, Kamis (5/3/2026).

Melansir Antara, Menko menilai revisi yang diberikan Fitch Ratings disebabkan ketidakpastian perekonomian global akibat eskalasi konflik di Timur Tengah.

Di mana Fitch Ratings merevisi outlook peringkat utang Indonesia dari stabil menjadi negatif. Tapi peringkat utang Indonesia masih dipertahankan di level BBB atau layak investasi (investment grade).

“Jadi memang (ekonomi) dunia ini outlook-nya lagi diperkirakan akan banyak perubahan dengan perkembangan di Timur Tengah. Tetapi yang penting kan Indonesia tetap investment grade. Nah ke depan tentu apa yang menjadi warning Fitch itu kita pelajari,” ujarnya.

Terkait sorotan terhadap Makan Bergizi Gratis (MBG), Airlangga menganggap program tersebut sebagai investasi jangka panjang.

Katanya, studi dari Bank Dunia maupun Rockefeller Foundation yang mengilustrasikan, setiap satu dolar investasi dalam program tersebut berpotensi menghasilkan manfaat ekonomi hingga tujuh dolar.

“Jadi itu adalah sebuah investasi dan banyak negara melakukan itu. Bahkan Amerika pun melakukan itu sehingga ini adalah tantangan long term dan medium term yang tidak bisa kita menghilangkan long term hanya untuk short term,” pungkasnya.

Terkait Danantara yang tak lepas dari sorotan Fitch Ratings, Airlangga menyebutnya sebagai lembaga masih tergolong baru sehingga memerlukan waktu untuk membangun rekam jejak.

“Danantara kan suatu organisasi yang sovereign wealth fund yang baru. Tentu belum semuanya kan kenal. Jadi, dan track record-nya diperlukan. Oleh karena itu, perhatian itu menjadi catatan,” katanya.

Sementara Fitch Ratings menyatakan, revisi outlook utang Indonesia mencerminkan eskalasi kekhawatiran atas ketidakpastian kebijakan pemerintah. Dilaporannya ditulis sentralisasi pengambilan kebijakan semakin berpotensi memengaruhi prospek fiskal jangka menengah, sentimen investor, serta ketahanan eksternal Indonesia.

Sedangkan level BBB didukung rekam jejak Indonesia dalam menjaga stabilitas makroekonomi, prospek pertumbuhan jangka menengah yang dinilai cukup baik, rasio utang pemerintah terhadap produk domestik bruto (PDB) yang relatif moderat, serta cadangan devisa yang memadai.(ant/lea/faz)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Kebakaran Rusunawa Sombo Surabaya

Kebakaran Rumah di Pengampon Surabaya

Banjir Menggenangi Sidosermo 4

Surabaya
Kamis, 5 Maret 2026
28o
Kurs