Prabowo Subianto Presiden RI mengungkapkan harapannya agar skenario terburuk dari konflik di Timur Tengah tidak terjadi, mengingat perang antara Iran melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel berlangsung sekitar dua pekan terakhir.
Dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jakarta, Jumat (13/3/2026), Presiden menegaskan terus memantau perkembangan situasi dan telah menyiapkan sejumlah langkah antisipasi terhadap dampak konflik tersebut, termasuk kemungkinan penghematan anggaran.
“Kita berharap skenario yang terburuk tidak terjadi di Timur Tengah, tetapi ramalan-ramalan juga banyak mengatakan ini bisa jadi perang yang sangat panjang, perang yang sangat panjang,” kata Prabowo di hadapan para menteri dan pejabat negara seperti dikutip Antara.
Meski demikian, Kepala Negara menyatakan kondisi Indonesia sejauh ini masih relatif aman dari dampak langsung konflik tersebut. Namun ia mengingatkan jajaran pemerintah untuk tetap waspada dan tidak lengah.
“Walaupun merasa aman, tidak panik, kita tidak boleh tidak mempersiapkan diri untuk kemungkinan paling jelek,” ujarnya.
Dalam rapat yang sama, dampak konflik Iran melawan AS dan Israel terhadap perekonomian Indonesia turut menjadi perhatian. Airlangga Hartarto Menteri Koordinator Bidang Perekonomian dan Luhut Binsar Pandjaitan Ketua Dewan Ekonomi Nasional melaporkan analisis masing-masing terkait potensi dampaknya bagi keuangan negara.
Airlangga memaparkan sejumlah skenario apabila konflik berlangsung dalam jangka waktu panjang, yakni lima bulan, enam bulan, hingga 10 bulan. Dalam proyeksi pemerintah, harga minyak mentah dunia bisa naik signifikan seiring lamanya konflik berlangsung.
Jika perang berlangsung hingga lima bulan, harga minyak diperkirakan mencapai 90 dolar AS per barel. Apabila konflik berlanjut hingga enam bulan, harga minyak diprediksi naik menjadi sekitar 97 dolar AS per barel. Sementara pada skenario terburuk, jika konflik berlangsung hingga 10 bulan, harga minyak dunia diperkirakan bisa mencapai 115 dolar AS per barel.
Airlangga menjelaskan bahwa kenaikan harga minyak tersebut akan berdampak langsung pada kondisi fiskal Indonesia, terutama terhadap defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
“Kalau kita masukkan terhadap APBN kita Pak, yang sekarang, ini skenario pertama, ICP-nya di 86 (dolar AS per barel), kursnya di Rp17.000, Pak. APBN kita kursnya Rp16.500, kemudian dengan growth kita pertahankan Pak. Jadi, ini yang kita pertahankan growth di 5,3 (persen). (Imbal hasil–red) Surat Berharga Negara (SBN) angkanya lebih tinggi Pak, 6,8 persen maka defisitnya adalah 3,18 persen,” papar Airlangga kepada Presiden.
Dalam skenario moderat, dengan asumsi harga minyak mencapai 97 dolar AS per barel, nilai tukar rupiah berada di Rp17.300 per dolar AS, pertumbuhan ekonomi 5,2 persen, dan imbal hasil SBN 7,2 persen, defisit APBN diperkirakan meningkat menjadi 3,53 persen.
“Nah, kemudian kalau skenario terburuk, yang pesimis itu, dengan harga (minyak mentah) 115 (dolar AS per barel), kurs rupiah kita Rp17.500, growth-nya 5,2, surat berharganya 7,2, defisitnya 4,06 persen,” ujarnya.
Ia menambahkan, dengan berbagai skenario tersebut, menjaga defisit APBN di bawah tiga persen akan menjadi tantangan berat bagi pemerintah.
“Jadi, artinya dengan berbagai skenario ini, defisit yang 3 persen itu sulit kita pertahankan, kecuali kita mau memotong belanja dan memotong pertumbuhan, Pak Presiden,” kata Airlangga saat memaparkan laporannya dalam sidang kabinet itu. (ant/bil/faz)
NOW ON AIR SSFM 100
