Suara Surabaya Media lewat Suara Surabaya Academy (SSA) memberi pelatihan strategi public relations kepada sejumlah anggota bidang Humas Polres di jajaran Polda Jawa Timur untuk melawan narasi negatif dengan empati supaya didengar dan mendapat kepercayaan dari publik.
Eddy Prastyo Pemimpin Redaksi Suara Surabaya Media ketika memaparkan materi tentang “Pengelolaan Opini Publik Dalam Kehumasan Kepolisian”, menyampaikan bahwa tantangan di era digital lebih kompleks.
Menurutnya, di era digital ini potongan video viral lebih dipercaya daripada pernyataan resmi instansi kepolisian. Untuk itu petugas humas dituntut supaya tidak sekadar pandai berbicara, namun memahami strategi untuk mengelola emosi publik.
Eddy menyatakan bahwa opini publik saat ini merupakan cermin legitimasi institusi Polri. Menurutnya, persoalan mendasar humas saat ini adalah lambatnya mengolah informasi menjadi komunikasi publik yang berempati.
“Tindakan yang secara prosedural benar, belum tentu diterima publik sebagai tindakan yang benar. Humas harus mampu menjembatani fakta hukum dengan rasa keadilan publik,” ujar Eddy dalam acara bertajuk Communication Excellent Program Suara Surabaya Academy, Selasa (28/4/2026).
Kemudian pada sub materinya tentang strategi golden hour atau respon awal dalam 30-60 menit pertama setelah sebuah insiden terjadi. Eddy menyampaikan bahwa keterlambatan informasi akan memicu spekulasi, disinformasi hingga narasi anti-institusi.
Untuk menangkal hal tersebut, anggota humas dibekali teknik menyusun holding statement yang mencakup lima variabel meliputi fakta yang diketahui, hal yang belum pasti, tindakan Polri, empati kepada pihak terdampak atau korban dan pembaruan informasi selanjutnya.
Selain membekali kecepatan informasi, Eddy juga mengajak anggota humas supaya tidak menggunakan bahasa yang defensif seperti ‘itu tidak benar’ atau ‘masyarakat jangan berasumsi’.
“Jadi fakta harus tersaji secara presisi tapi enggak terkesan menantang publik, nah ini yang challlenging,” tuturnya.
Kemudian pelatihan ini tidak hanya fokus pada kemampuan bicara, namun juga pembentukan profil operator humas modern yang memahami literasi psikologi publik dan kecerdasan digital.
Melalui kolaborasi ini, Eddy berharap anggota humas jajaran Polda Jatim mampu mengubah paradigma dari yang semula reaktif atau klarifikasi menjadi pembangun kepercayaan publik yang berkelanjutan.
“Yang paling penting adalah akurasi dan kredibilitas informasinya. Kalau informasinya kredibel kita bisa mengambil keputusan berdasarkan data itu oke cepat ya, tapi kalau enggak, jangan,” tandasnya. (wld/saf/ipg)
NOW ON AIR SSFM 100
