Sabtu, 6 Juni 2026

Fashionology UC Surabaya Ubah Limbah Jadi Karya Busana Kreatif

Laporan oleh Risky Pratama
Bagikan
Sejumlah karya busana mahasiswa Prodi Fashion Product Design and Business, Fakultas Industri Kreatif, Universitas Ciputra (UC) Surabaya saat ditampilkan dalam Fashionology 2026 di Surabaya, pada Sabtu (6/6/2026). Foto: Risky suarasurabaya.net

Mahasiswa Program Studi Fashion Product Design and Business, Fakultas Industri Kreatif, Universitas Ciputra (UC) Surabaya mengubah limbah material produksi menjadi karya busana yang lebih bernilai dalam Fashionology 2026.

Yoanita Kartika Sari Tahalele, Ketua Program Studi sekaligus Ketua Fashionology 2026 mengatakan bahwa seluruh busana yang ditampilkan tersebut, telah melalui tahap riset, eksplorasi, kreativitas, dan keberanian untuk menawarkan solusi melalui desain.

“Kami ingin pengalaman ini menjadi bekal bagi para lulusan untuk memasuki dunia profesional dengan percaya diri, membangun jejaring yang lebih luas, serta berkontribusi bagi perkembangan industri fashion Indonesia dan dunia,” katanya di Surabaya pada Sabtu (6/6/2026).

Dalam proses pembuatannya, ia mengatakan bahwa mahasiswa juga berkolaborasi dengan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) serta mendalami budaya lokal dalam bahasa desain kontemporer.

Sejumlah busana yang ditampilkan dalam Fashionology 2026 mencakup berbagai kategori, mulai dari evening wear, streetwear, modest wear, hingga childrenswear.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa koleksi busana juga tidak hanya hanya menawarkan eksplorasi estetika dan mengangkat isu keberlanjutan lingkungan, tetapi ada juga beberapa isu strategis lain seperti pelestarian budaya, identitas generasi muda, hingga perubahan sosial yang terjadi di tengah masyarakat.

“Fashionology 2026 mengajak pengunjung menyelami ruang transisi antara dunia akademik dan profesional, antara tradisi dan inovasi, serta antara tantangan masa kini dan peluang masa depan,” ujarnya.

Pagelaran busana itu menurutnya jadi momentum penting Prodi untuk mendorong generasi baru desainer Indonesia menerjemahkan perubahan zaman ke dalam karya. Sehingga, mahasiswa akhir bukan hanya bersiap merayakan kelulusan, tetapi siap menjadi kreator yang membawa berbagai ide desain busana baru.

Sementara itu, Muhammad Atho’illah salah satu mahasiswa mengatakan bahwa dirinya membuat busana berupa streetwear dengan memanfaatkan limbah deadstock kain batik dan melalui teknik patchwork dan applique.

“Hasil koleksi ini memiliki aksen budaya lokal berpenampilan modern dan relevan dengan tren global yang banyak diikuti oleh generasi muda,” ucapnya.

Ia memilih untuk merancang busana streetwear dengan fokus skena hip hop lokal karena fenomena skena tersebut sedang digemari anak muda, sehingga menurutnya sesuai dengan tren pasar saat ini.

“Kalau semua tahu, sekarang hip hop lagi naik di pasaran dan sudah mulai konstan tentang tren ini. Jadi saya mengangkat potensi ini berupa produk, supaya bisa berkontribusi di pasaran dan bisa menghasilkan,” ucapnya.

Seperti diketahui, Fashionology tahun ini juga diikuti oleh lima universitas mitra dunia, yakni Tsinghua University (China), Shih Chien University (Taiwan), Manchester Metropolitan University (Inggris), Swinburne University (Australia), dan TAR UMT (Malaysia). Masing-masing institusi menghadirkan enam koleksi terbaik mahasiswa mereka, mempertemukan perspektif lintas budaya dalam satu panggung kreatif. (ris/saf/iss)

Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Mobil Masuk Saluran Air

Perjalanan Menuju Arafah

Gerbang King Abdulaziz Masjidil Haram

Abraj Al Bait, Makkah Royal Clock Tower

Surabaya
Sabtu, 6 Juni 2026
28o
Kurs