Kamis, 25 Juni 2026

Viral di Media Sosial Bukan Jaminan Destinasi Wisata Bertahan Lama

Laporan oleh Meilita Elaine
Bagikan
Foto udara kawasan wisata panorama air terjun Tumpak Sewu di Pronojiwo, Lumajang, Jawa Timur, Minggu, 22 September 2024. Foto: Antara

Fenomena destinasi wisata yang mendadak ramai setelah viral di media sosial semakin sering terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Namun di balik meningkatnya jumlah wisatawan dan cepatnya perputaran ekonomi, ada ancaman yang sering luput dari perhatian, yakni overtourism atau kelebihan jumlah wisatawan yang datang dalam waktu bersamaan.

Agustinus Lis Indrianto, Dekan Fakultas Kuliner, Teknologi Pangan, dan Pariwisata Universitas Ciputra Surabaya menilai viralitas perlu sebagai pintu masuk untuk memperkenalkan sebuah destinasi ke masyarakat luas.

Tapi, popularitas yang muncul secara tiba-tiba tidak bisa jadi fondasi utama pengembangan pariwisata jangka panjang.

“Viral itu harus dianggap sebagai pintu masuk saja, bukan jangka panjang. Itu penting memang untuk meningkatkan pemahaman dan informasi orang, tapi itu tidak bisa diandalkan agar tempat menjadi sustain (bertahan), harus ada yang dibangun,” kata Agustinus saat mengudara di Program Wawasan Polling Radio Suara Surabaya, Kamis (25/6/2026).

Ia menjelaskan, ada dua jenis viralitas dalam dunia pariwisata. Pertama, viral yang memang dirancang melalui strategi pemasaran. Kedua, viral yang terjadi secara alami karena suatu tempat memiliki keunikan yang menarik perhatian publik lalu dibagikan ke media sosial.

Menurutnya, ketika sebuah destinasi wisata sebelumnya kurang dikenal tiba-tiba viral, cenderung memunculkan dampak ekonomi yang positif. Jumlah wisatawan meningkat, eksposur destinasi bertambah, dan aktivitas ekonomi masyarakat sekitar ikut bergerak.

“Kalau objek yang dulu (masyarakat) tidak tahu, tapi unik dan menarik lalu viral secara tidak sengaja, dampak ekonominya bagus. Kunjungan wisata naik, eksposur naik, itu positifnya,” ujarnya.

Namun, banyak destinasi belum siap menghadapi lonjakan pengunjung secara mendadak. Berbagai fasilitas dasar seperti akses jalan, area parkir, toilet, hingga tempat sampah sering kali tidak mampu menampung jumlah wisatawan yang datang.

“Kekurangannya, banyak tempat tidak siap, over capacity. Lalu kita berbicara tentang akses wisatawan, toilet, tempat sampah dan lain-lain. Itu akan terjadi over tourism sehingga tingkat kenyamanan wisatawan atau masyarakat lokal menjadi kurang nyaman,” katanya.

Selain berdampak pada kenyamanan, perubahan suasana lingkungan juga dapat memicu persoalan sosial di masyarakat sekitar.

“Lalu dampak sosial, dari suasana yang tenang menjadi ramai itu bisa terjadi,” tambahnya.

Fenomena tersebut pernah terlihat di sejumlah destinasi yang viral karena media sosial. Di Jawa Timur misalnya, Ranu Manduro di Kecamatan Ngoro, Mojokerto, sempat menjadi perbincangan nasional karena pemandangan perbukitan bekas tambang yang disebut mirip savana di luar negeri. Namun lonjakan wisatawan menyebabkan kemacetan dan munculnya persoalan sampah hingga akhirnya kawasan tersebut ditutup oleh pemilik lahan.

Agustinus menegaskan bahwa keberlanjutan harus menjadi perhatian utama dalam pengembangan destinasi wisata, baik yang berbasis alam maupun buatan.

“Ketika bicara pariwisata, harus berkelanjutan. Dengan adanya yang viral kadang ketika trennya turun, orang tidak datang dan akhirnya tutup,” ujarnya.

Menurut dia, destinasi wisata alam memiliki risiko yang lebih besar karena yang dipertaruhkan bukan hanya aspek ekonomi, melainkan juga kelestarian lingkungan.

“Kalau bicara alam harus memikirkan sustain alamnya. Kalau buatan sustain bisnisnya. Kalau alam, yang dipertaruhkan bukan hanya dampak ekonomi tapi juga alam,” katanya.

Seorang wisatawan berpose di Air Terjun Tumpak Sewu, Pronojowo, Lumajang, Jawa Timur. Foto: garustravel

Ia mencontohkan destinasi Air Terjun Tumpak Sewu di Lumajang yang dalam dua tahun terakhir semakin populer, terutama di kalangan wisatawan mancanegara asal China.

“Yang paling tinggi eksposur Tumpak Sewu. Ini sebenarnya sudah sejak dulu, tapi dua tahun terakhir booming khususnya wisatawan China. Itu viral not by design. Tinggal bagaimana menyambut eksposur viral itu supaya menjadi sustainable,” ujarnya.

Sementara untuk destinasi buatan, pengelola harus mampu menciptakan alasan agar wisatawan mau kembali berkunjung setelah tren viral mereda. Ia mencontohkan kawasan wisata HeHa di Yogyakarta yang dibangun dengan konsep khusus meskipun memanfaatkan panorama alam sebagai daya tarik.

“HeHa itu kan buatan, view-nya alam tapi tempatnya dibuat. Itu harus bisa dibuat agar orang datang berikutnya,” ujarnya.

Agustinus menilai masih banyak pengelola destinasi yang terlalu fokus menikmati popularitas sesaat tanpa memikirkan strategi lanjutan setelah masa viral berakhir.

“Faktanya banyak pengelola tidak paham itu. Hanya puas dengan viral, tidak dihitung viral itu berapa lama. Yang sering terlupa setelah viral, what’s next?” katanya.

Ia menambahkan, keberhasilan sebuah destinasi wisata tidak cukup hanya mengandalkan perhatian publik di media sosial, melainkan harus ditopang oleh manajemen yang baik dan pengembangan produk wisata yang berkelanjutan.

“Viral penting untuk membuka gerbang saja. Sustain bisnis harus memperhatikan manajemen bisnis dan produk,” tegasnya.

Lebih jauh, ia mengingatkan bahwa viralitas tidak selalu berbanding lurus dengan peningkatan jumlah kunjungan. Faktor aksesibilitas, biaya perjalanan, dan kenyamanan wisatawan tetap menjadi pertimbangan utama.

“Kalau viral ada faktor lain, akses jauh, mahal, ke sana perlu effort, itu beda lagi. Eksposur informasi viral itu penting, tapi meningkatkan kunjungan belum tentu,” ujarnya.

Terkait peran kreator konten, Agustinus berharap para pembuat konten wisata juga mulai mempertimbangkan dampak yang ditimbulkan dari konten yang mereka unggah.

“Kalau content creator memang membutuhkan exposure, viewer, follower. Tapi saya rasa tidak semua berpikir dampaknya bagaimana. Kalau mereka profesional traveller mungkin berbeda,” katanya.

Bagi wisatawan, ia mengingatkan agar viralitas tidak menjadi satu-satunya dasar dalam menentukan tujuan perjalanan.

“Viral itu penting untuk menggali informasi,” pungkasnya. (lta/ipg)

Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Sepeda Motor Terbakar di Genteng Besar

Pelangi Diujung Pagi Surabaya

Mobil Masuk Saluran Air

Perjalanan Menuju Arafah

Surabaya
Kamis, 25 Juni 2026
32o
Kurs