Jumat, 4 September 2026

Kemdiktisaintek Minta Kampus Perkuat Layanan Bimbingan Konseling Mahasiswa

Laporan oleh Ika Suryani Syarief
Bagikan
Beny Bandanadjaja Direktur Pembelajaran dan Mahasiswa Kemdiktisaintek dalam kegiatan diskusi bersama media di Jakarta, Kamis (18/6/2026). Foto: Antara

Beny Bandanadjaja Direktur Pembelajaran dan Mahasiswa (Belmawa) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) meminta seluruh perguruan tinggi di Indonesia memperkuat layanan bimbingan konseling di masing-masing kampus, demi mencegah krisis mental mahasiswa.

Beny menekankan bahwa layanan bimbingan dan konseling di perguruan tinggi bukan lagi sekadar fasilitas pelengkap, melainkan bagian krusial yang harus mudah dijangkau mahasiswa.

“Di balik capaian akademik yang kita lihat, tidak sedikit mahasiswa yang mengalami tekanan, kesulitan beradaptasi, persoalan keluarga, hingga masalah kesehatan mental. Karena itu, layanan bimbingan dan konseling bukan lagi pelengkap, melainkan menjadi bagian yang penting dari layanan kemahasiswaan,” katanya dalam kegiatan Sosialisasi Panduan Bimbingan dan Konseling di Perguruan Tinggi Tahun 2026 yang digelar secara daring di Jakarta yang dilaporkan Antara, Jumat (4/9/2026).

Beny menggarisbawahi, tanggung jawab perguruan tinggi jauh lebih besar daripada sekadar mencetak lulusan yang cerdas secara akademik. Menurutnya, kampus harus benar-benar hadir sebagai ruang yang aman bagi mahasiswa untuk belajar sekaligus berkembang. Ia mengingatkan bahwa layanan bimbingan konseling yang tidak dipelihara dan berjalan optimal dapat memicu masalah yang jauh lebih fatal di kemudian hari.

Beny menilai, problem psikologis awal yang tidak segera ditangani dapat berujung pada hilangnya semangat belajar, putus studi, menjadi korban kekerasan, hingga tragedi hilangnya nyawa mahasiswa.

“Pencegahan selalu lebih baik daripada penanganan setelah terjadi masalah yang lebih besar. Oleh karena itu, penguatan layanan ini memerlukan komitmen bersama,” ujar Beny.

Lebih jauh, ia menyoroti pentingnya relasi kuasa yang sehat antara sivitas akademika. Ia mengimbau para pimpinan kampus, pimpinan kemahasiswaan, dosen, hingga tenaga kependidikan agar tidak menggunakan wewenang, ucapan, maupun sikap mereka sebagai sumber tekanan dan ketakutan bagi mahasiswa.

“Mahasiswa harus berani mencari bantuan ketika menghadapi persoalan, bukan justru takut karena merasa tidak akan didengar atau khawatir terhadap konsekuensi yang akan diterimanya,” ucapnya melanjutkan.

Guna mewujudkan ekosistem kampus yang berpihak pada keselamatan dan kesejahteraan mahasiswa, Kemdiktisaintek terus mendorong kolaborasi penyediaan panduan bimbingan konseling yang melibatkan Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) di masing-masing wilayah sebagai pendamping. Menyadari kapasitas layanan konseling di setiap perguruan tinggi berbeda-beda, Beny berharap forum sosialisasi ini dapat menjadi wadah berbagi praktik baik antarkampus, sehingga institusi yang belum memiliki layanan memadai tidak perlu merintis sistemnya dari awal.(ant/iss)

Soerabaja10k
Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Kecelakaan Beruntun di Tol Waru Arah Perak

Truk Patah As Tutup Satu Jalur Benowo Surabaya

Sebelum Terbenam

Surabaya
Jumat, 4 September 2026
27o
Kurs