Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) menilai bahwa penanganan kedaruratan di kapal roro selama ini belum berjalan maksimal, sehingga ketika terjadi kecelakaan, dampaknya kerap menimbulkan banyak korban.
“Latihan (penanganan kedaruratan) di kapal itu masih sebatas formalitas belum menjadi satu keharusan,” kata Soerjanto Tjahjono, Ketua KNKT, dalam webinar yang diselenggarakan Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), seperti dilaporkan Antara, Jumat (18/9/2026) malam.
Ia menjelaskan, berdasarkan hasil investigasi maupun praktik di lapangan, penanganan kedaruratan di atas kapal masih jauh dari kata optimal, sehingga saat terjadi insiden kecelakaan, respons penanganannya pun turut menjadi kurang maksimal.
Soerjanto melanjutkan, pelatihan tanggap darurat semestinya menjadi sebuah keharusan sekaligus kebutuhan mendasar, guna melatih para awak kapal agar mampu melakukan penanganan tanggap darurat dengan baik.
“Jadi latihan tanggap darurat bukan ditunjukkan untuk keberhasilan tapi untuk mengetahui kelemahan atau kekurangan agar dapat dilakukan penyempurnaan,” ujarnya.
Ia mengungkapkan, KNKT sebelumnya pernah melakukan simulasi tanggap darurat di atas kapal. Namun, dari simulasi tersebut ditemukan banyak kendala, baik dalam simulasi penanganan kebakaran, penggunaan jaket pelampung, maupun keterbatasan jumlah kapal penolong.
Pada simulasi kebakaran, Soerjanto menuturkan bahwa petugas sempat mengalami kesulitan saat hendak menggunakan selang hidran, lantaran alat tersebut tidak dapat berfungsi optimal akibat sejumlah hambatan teknis, terutama ketika kondisi kapal dalam keadaan bermuatan penuh.
Tak hanya itu, ia juga mengungkapkan bahwa proses pemakaian pakaian anti api ternyata membutuhkan waktu sekitar lima hingga delapan menit, dan harus dilakukan oleh dua orang secara bersamaan.
“Kenapa banyak gagal ketika kebakaran, hidrannya tidak berfungsi dengan baik karena memang ternyata setelah kita praktekkan banyak hambatan,” katanya.
Soerjanto menambahkan, proses pemakaian life jacket atau jaket pelampung pun ternyata memerlukan waktu yang tidak sebentar, yakni berkisar tiga hingga enam menit.
“Kita amati setelah kita lakukan briefing terus kita minta teman-teman baik kru kapal maupun yang bukan kru kapal ternyata rata-rata mereka menggunakan life jacket antara tiga menit sampai enam menit,” katanya menambahkan.(ant/iss)

NOW ON AIR SSFM 100

