Sabtu, 3 Oktober 2026

Kondisi Ekonomi Sulit Diprediksi, Proteksi Kekayaan Jangka Panjang Dinilai Makin Relevan

Laporan oleh Billy Patoppoi
Bagikan
Ilustrasi seorang waniya yang memeriksa rekening di buku tabungan. Foto: iStock

Kondisi ekonomi yang semakin sulit diprediksi membuat perlindungan kekayaan jangka panjang dinilai semakin relevan. Karenanya, masyarakat perlu mengantisipasi berbagai risiko, mulai dari inflasi, perubahan nilai tukar, hingga dinamika ekonomi global yang bergerak cepat.

Indrawan B Executive Vice President Wealth Management BCA mengatakan, perubahan ekonomi saat ini berlangsung sangat cepat. Kondisi itu membuat proyeksi ekonomi dalam lima hingga 10 tahun ke depan semakin sulit dilakukan secara akurat.

“Kalau kita bicara ini kan ketidakpastian. Kita agak sulit untuk prediksi misalnya lima tahun ke depan mau bagaimana, 10 tahun ke depan mau bagaimana. Karena perubahannya sangat cepat,” kata Indrawan dalam konferensi pers di Jakarta, Jumat (2/10/2026) dikutip Antara.

Menurut Indrawan, kondisi ekonomi global dan domestik saat ini semakin terhubung. Perubahan yang terjadi di satu negara dapat berdampak terhadap negara lain.

Dalam situasi itu, perlindungan kekayaan menjadi penting karena masyarakat perlu menyiapkan diri menghadapi risiko jangka panjang. Beberapa faktor yang perlu diperhitungkan antara lain inflasi dan perubahan nilai tukar.

Indrawan mencontohkan, uang dengan nominal sama dapat memiliki daya beli yang berbeda pada masa mendatang akibat inflasi. “Uang Rp1 miliar sekarang dengan uang Rp1 miliar 10 tahun lagi mungkin akan sangat berbeda,” ujarnya.

Ia mengatakan, kecenderungan nilai rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) serta potensi inflasi menjadi faktor yang perlu diperhatikan ketika masyarakat merencanakan perlindungan kekayaan jangka panjang.

Menurutnya, solusi perlindungan kekayaan perlu dirancang dengan mempertimbangkan berbagai risiko. Dengan begitu, nilai kekayaan tidak hanya diharapkan tetap stabil, tetapi juga mampu tumbuh untuk mengimbangi tekanan inflasi. “Harus up supaya bisa meng-cover inflasi dan segala macam. Termasuk currency-nya,” katanya.

Indrawan menambahkan, pendekatan dalam layanan wealth management idealnya tetap didasarkan pada kebutuhan nasabah, bukan semata-mata dorongan untuk menjual produk tertentu.

“Kita tidak mau penjualan kita itu di-drive dari keinginan kita menjual. Yang kita mau adalah kita menjual berdasarkan angka yang nasabah kita butuh,” ujarnya. (ant/bil/iss)

Soerabaja10k
Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Cuaca di Pos Pantau Gunung Merapi Cerah

Posisi Mobil Tersangkut di Viaduk dari Belakang

Tersangkut di Bawah Viaduk Gubeng

Kecelakaan Beruntun di Tol Waru Arah Perak

Surabaya
Sabtu, 3 Oktober 2026
33o
Kurs