Selasa, 6 Oktober 2026

Pancasila Perekat Bangsa di Tengah Gempuran Ekstremisme dan Politik Pecah Belah

Laporan oleh Ika Suryani Syarief
Bagikan
Lilik Arijanto Sekda Kota Surabaya memimpin upacara Hari Kesaktian Pancasila, Kamis (1/10/2026). Foto: Diskominfo Kota Surabaya

Di tengah derasnya arus ideologi transnasional dan menguatnya politik pecah belah yang menyasar ruang digital, Pancasila kembali membuktikan kesaktiannya, bukan sebagai jargon upacara, melainkan sebagai perekat yang menjaga Indonesia tetap utuh.

Hal ini ditegaskan Amir Mahmud, akademisi sekaligus pengamat radikalisme dan terorisme, saat membahas makna Hari Kesaktian Pancasila. Menurutnya, kesaktian Pancasila justru teruji ketika bangsa ini dihantam dua ancaman sekaligus: ekstremisme yang mengatasnamakan agama dan politik identitas yang sengaja membelah masyarakat.

“Pancasila sangat efektif menjadi jembatan perbedaan. Dari Sabang sampai Merauke, dari perbedaan suku, ras, hingga agama, semua bisa diakomodasi,” ujar Amir Mahmud di Surakarta, Selasa (6/10/2026).

Dosen Pascasarjana Magister Pendidikan Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta ini menilai, masyarakat majemuk seperti Indonesia tidak bisa bertahan hanya dengan semangat toleransi semu. Dibutuhkan nilai bersama yang mengikat, agar perbedaan tidak berubah menjadi segregasi, intoleransi, hingga konflik terbuka.

“Pancasila mengajarkan bahwa perbedaan adalah kenyataan sosial yang harus dikelola melalui kemanusiaan, persatuan, musyawarah, dan keadilan,” tegasnya.

Amir Mahmud Dosen Pascasarjana Magister Pendidikan Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta. Foto: Dok. Pribadi

Amir mengingatkan, ideologi ekstrem hari ini tidak lagi bergerak di ruang gelap, melainkan sangat vulgar di media sosial. Narasi kebencian, intoleransi, dan ajakan kekerasan dikemas dengan bahasa agama dan nasionalisme palsu. Menghadapi hal ini, pendekatan keamanan saja dinilai tidak akan pernah cukup.

“Ekstremisme dan radikalisme yang mendorong kebencian dan kekerasan perlu dihadapi bukan hanya dengan pendekatan keamanan, tetapi juga melalui pendidikan, literasi, dialog, serta penguatan ketahanan sosial,” jelasnya.

Ia membedakan dengan tegas: keamanan baru bekerja ketika ujaran kebencian telah berubah menjadi tindakan fisik bersenjata. Selama masih di ranah wacana dan propaganda, senjatanya adalah literasi moderat dan dialog kebangsaan.

“Sepanjang masih dalam bentuk ujaran kebencian atau ketidaksukaan, ini hanya bisa dihadapi dengan cara literasi dan dialog,” katanya.

Lebih jauh, Amir menilai politik pecah belah bangsa adalah musuh baru yang sama berbahayanya dengan ideologi transnasional, karena keduanya sama-sama berusaha menggoyahkan kesatuan dengan memanfaatkan emosi publik. Untuk itu, ia mendorong agar penguatan Pancasila dilakukan hingga tingkat kelurahan, melalui Focus Group Discussion (FGD) dan forum diskusi terbuka yang melibatkan lintas latar belakang.

“Masyarakat harus memiliki kemampuan untuk mengenali bahwa narasi intoleransi, radikalisme, dan terorisme itu berpotensi merusak tatanan sosial berbangsa dan bernegara,” ujarnya.

Menurutnya, cara paling sakti untuk meneguhkan Pancasila bukanlah dengan membangun kebencian baru terhadap kelompok lain, melainkan dengan memperkuat kesadaran kebangsaan itu sendiri.

“Memerangi ideologi transnasional dan meneguhkan Pancasila dilakukan bukan dengan membangun kebencian baru, melainkan dengan memperkuat dialog, literasi, dan kesadaran kebangsaan. Ini baru luar biasa,” imbuhnya.

Bagi Amir, Hari Kesaktian Pancasila adalah momentum refleksi, bukan sekadar seremoni sejarah. Kesaktian Pancasila terletak pada kemampuannya tetap hidup sebagai living values dalam perilaku masyarakat dan penyelenggaraan negara, meski terus diterpa berbagai peristiwa yang berusaha meruntuhkan NKRI.

“Indonesia ini bangsa yang sangat majemuk, kita membutuhkan titik temu yang memungkinkan perbedaan itu tetap hidup tanpa berubah menjadi konflik. Itulah semangat pluralitas yang dijunjung tinggi oleh para pahlawan kita,” ungkapnya.

Ia pun menyerukan agar masyarakat tidak meragukan Pancasila.

“Pancasila harus terus dipahami, dikaji, dan dibuktikan relevansinya melalui praktik kehidupan masyarakat. Ukuran kekuatan Pancasila itu bukan sekadar seberapa sering kita mengucapkannya atau mengikrarkannya, melainkan seberapa jauh nilai-nilai tersebut mampu menjawab persoalan nyata bagi bangsa ini,” pungkas Direktur Amir Mahmud Center itu.(iss/faz)

Soerabaja10k
Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Cuaca di Pos Pantau Gunung Merapi Cerah

Posisi Mobil Tersangkut di Viaduk dari Belakang

Tersangkut di Bawah Viaduk Gubeng

Kecelakaan Beruntun di Tol Waru Arah Perak

Surabaya
Selasa, 6 Oktober 2026
34o
Kurs