Selasa, 6 Oktober 2026
Merawat Bumi Majapahit

Target Prevalensi Stunting Jatim 13 Persen, Pencegahan Dimulai dari Remaja Putri

Laporan oleh Ika Suryani Syarief
Bagikan
Cicik Swi Antika, Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur setelah Talkshow Merawat Bumi Majapahit di Radio Suara Surabaya, Selasa (6/10/2026). Foto: Istimewa

Prevalensi stunting di Jawa Timur turun cukup tajam, dari 17,7 persen pada 2023 menjadi 14,7 persen pada 2024 berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI). Meski belum mencapai target 14 persen pada 2024, Jawa Timur berada di peringkat kedua terbaik secara nasional.

Pada 2026, target prevalensi stunting Jawa Timur ditetapkan sebesar 13 persen. Artinya, Jawa Timur masih perlu mengejar penurunan sekitar satu poin dari angka saat ini.

Cicik Swi Antika, Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur, mengatakan capaian tersebut harus terus dijaga. Sebab, stunting menjadi salah satu komponen dalam indeks modal manusia, yang menjadi indikator pembangunan sumber daya manusia dalam RPJMN 2025–2029.

“Walaupun secara target kita belum tercapai, alhamdulillah Jawa Timur nomor dua terbaik di tingkat nasional,” ujar Cicik dalam Talkshow Merawat Bumi Majapahit di Radio Suara Surabaya, Selasa (6/10/2026).

Strategi Jawa Timur berfokus pada pencegahan dan percepatan penurunan stunting, dengan 11 indikator intervensi spesifik dan sensitif. Cicik menegaskan, pencegahan menjadi prioritas utama karena stunting sulit dipulihkan setelah terjadi.

“Intervensi stunting tidak bisa kembali dengan mudah, jadi upaya pencegahan itu yang lebih dimaksimalkan, dengan sasaran mulai dari remaja putri,” jelasnya.

Pada kelompok remaja putri, Dinkes Jatim menjalankan skrining anemia massal di semua sekolah dan pondok pesantren, disertai gerakan minum tablet tambah darah. “Remaja putri kita tidak boleh ada yang anemia,” tegasnya.

Sasaran berikutnya adalah ibu hamil. Mereka diminta memeriksakan kehamilan secara rutin, minimal enam kali selama masa kehamilan, serta mengonsumsi tablet tambah darah atau multiple micronutrient supplement (MMS). Ibu hamil dengan kekurangan energi kronis (KEK) harus segera mendapat pemberian makanan tambahan (PMT) lokal.

Untuk balita, penimbangan rutin di Posyandu menjadi langkah awal. Cicik mengajak masyarakat membawa anak ke Posyandu setiap bulan.

“Ini perlu kita gaungkan ke masyarakat: membawa anaknya ke Posyandu setiap bulan itu penting, karena itu salah satu detektor untuk mengetahui apakah anak kita sudah tumbuh dan berkembang sesuai usianya,” ujarnya.

Bayi baru lahir harus mendapat inisiasi menyusu dini (IMD) dan ASI eksklusif selama enam bulan tanpa tambahan makanan lain. Setelah itu, hingga usia 23 bulan, bayi diberi makanan pendamping ASI. Balita bergizi kurang, termasuk yang berat badannya tidak naik satu kali, harus segera mendapat PMT lokal. Balita gizi buruk ditangani secara berjenjang, mulai dari Puskesmas hingga rumah sakit.

Cicik juga mengatakan, anak yang sudah berlangganan dokter anak tetap perlu ke Posyandu. Menurutnya, sebaiknya tetap, karena pemantauan dilakukan di tingkat wilayah.

“Seringkali tidak apa-apa ke spesialis anak atau ke dokter, tetapi informasinya itu harus tetap masuk ke pemangku wilayah setempat, dalam hal ini biasanya bidan desa,” katanya.

Penghubung informasi tersebut adalah buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA). “Harapannya buku KIA itu diisi ke mana pun anak berobat,” tambahnya.

Di bawah program Jatim Sehat, Dinkes Jatim memiliki sejumlah inovasi, salah satunya pendampingan bagi ibu hamil KEK maupun ibu hamil berisiko tinggi. Cicik menyebut program itu bernama “Buayian”. Pendampingan diharapkan membuat masyarakat lebih patuh terhadap pelayanan kesehatan.

Dalam kesempatan yang sama, Cicik mengingatkan pentingnya imunisasi lengkap. Ia meminta tidak ada lagi perdebatan soal halal-haram vaksin.

“Semua masyarakat harus membawa anaknya untuk imunisasi, dan tidak boleh lagi ada perdebatan terkait halal-haram. Itu rasanya sudah harus kita minimalisir,” tegasnya.

Berdasarkan evaluasi di lapangan, sebagian orang tua enggan membawa anak imunisasi karena takut anak demam. Bahkan ada yang mencari imunisasi yang tidak menimbulkan panas. Cicik menilai hal itu keliru.

“Padahal justru ketika reaksi panas itu, itu adalah salah satu reaksi dari yang disuntikkan,” ujarnya.

Ia berharap orang tua, terutama yang baru memiliki anak, bisa memahami bahwa demam dan rewel merupakan efek imunisasi. Meski demikian, ada kriteria kondisi tertentu yang mengharuskan anak segera dibawa ke dokter.(iss/faz)

Soerabaja10k
Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Cuaca di Pos Pantau Gunung Merapi Cerah

Posisi Mobil Tersangkut di Viaduk dari Belakang

Tersangkut di Bawah Viaduk Gubeng

Kecelakaan Beruntun di Tol Waru Arah Perak

Surabaya
Selasa, 6 Oktober 2026
33o
Kurs