Bank Indonesia memperkuat pengembangan ekonomi dan keuangan syariah melalui strategi yang mencakup pembiayaan, sertifikasi halal, pengembangan usaha, akses ekspor, pemanfaatan dana sosial, serta peningkatan literasi masyarakat. Langkah ini ditempuh agar ekonomi syariah tidak berhenti pada pertumbuhan produk halal, tetapi berkembang menjadi ekosistem yang terintegrasi dan memberi manfaat lebih luas.
Yono Haryono Deputi Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jawa Timur mengatakan, Bank Indonesia memiliki sejumlah strategi untuk mendorong pengembangan ekosistem ekonomi dan keuangan syariah secara lebih terintegrasi. Hal tersebut disampaikan Yono dalam kegiatan Capacity Building Media Bank Indonesia Jawa Timur 2026 di Solo, Jawa Tengah.
“Dalam arah kebijakan pengembangan ekonomi dan keuangan syariah hingga 2030, kami punya tiga fokus utama. Ketiganya meliputi optimalisasi pembiayaan syariah, pembangunan ekosistem halal yang terintegrasi dan kompetitif, serta perluasan literasi dan inklusi ekonomi dan keuangan syariah,” kata Yono dalam Capacity Building Media Bank Indonesia Jawa Timur 2026 di Solo, Jawa Tengah.
Untuk mendukung tiga fokus tersebut, lanjut Yono, BI menjalankan sejumlah inisiatif yang menyasar pesantren, pelaku usaha, lembaga keuangan, hingga masyarakat. Salah satunya adalah lewat Gerbang Santri atau Gerakan Pengembangan Pesantren dan Rantai Nilai Halal. Program ini diarahkan untuk memperkuat tata kelola pesantren, kewirausahaan, kerja sama antarpesantren, serta keberlanjutan usaha.
Selain pesantren, BI juga mendorong pelaku usaha syariah agar mampu menembus pasar global melalui Jawara Ekspor atau Jaringan Wirausaha Syariah Mendorong Ekspor. Program ini mencakup penguatan produk, penyediaan informasi pasar, pelatihan, pendampingan, hingga business matching.
NOW ON AIR SSFM 100

