Senin, 12 Oktober 2026

Sejarawan: Ekonomi Jatim Lebih Kuat dari Batavia Sebelum Abad Ke-20

Laporan oleh Billy Patoppoi
Bagikan
Ilustrasi pabrik gula di Jawa Timur (Jatim). Foto: Wikipedia

Provinsi Jawa Timur (Jatim) dengan Kota Surabaya-nya punya sejarah panjang menjadi dalam perekonomian Nusantara. Bahkan, Bumi Majapahit ini punya jejak panjang sebagai pusat ekonomi, perkebunan, dan industri sebelum Batavia yang kini menjadi Jakarta ditetapkan sebagai pusat perekonomian dan pemerintahan.

Hal itu diungkapkan Prof. Dr. Purnawan Basundoro, Guru Besar Sejarah Perkotaan Departemen Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Airlangga (FIB Unair) Surabaya. Ia mengatakan, posisi strategis yang dinobatkan kepada Jatim hari ini, tak bisa lepas dari sejarah panjang kawasan ini sejak masa kerajaan.

Menurut Prof. Basundoro sapaan akrabnya, sejarah Jatim bisa dirunut sejak Empu Sendok memindahkan Kerajaan Mataram Kuno ke tanah ini dari Jawa Tengah, sekitar abad ke-10 atau tahun 928 Masehi akibat bencana alam, yakni letusan Gunung Merapi.

Setelah Mataram Kuno runtuh akibat serangan Raja Urawari pada 1016 Masehi, berdirilah Kerajaan Kahuripan di bawah Raja Airlangga pada 1019 Masehi. Kerajaan itu kemudian pecah menjadi Jenggala dan Kediri, sebelum akhirnya muncul Kerajaan Singosari dan Majapahit.

Berdirinya Majapahit pada 1293 itulah, yang kemudian menjadi salah satu tonggak penting Jatim sebagai pusat kerajaan Nusantara. Bahkan, Surabaya berperan sebagai pintu gerbang perdagangan dan militer ke berbagai wilayah.

“Bahkan kan dipercaya bahwa Malaysia, Singapura, atau Temasik pada waktu itu itu juga merupakan bagian dari Kerajaan Majapahit. Nah, inilah saya kira akar dari sejarah kita di Jawa Timur yang sedemikian strategis pada periode-periode yang lalu itu. Dan kalau kita sekarang ingin menjadikan Jawa Timur sebagai pintu gerbang Nusantara, saya kira, itu adalah sebuah pengulangan dari apa yang pernah dialami oleh Jawa Timur pada masa lalu,” kata Prof Basundoro saat on air di program Wawasan Suara Surabaya, Senin (12/10/2026).

Dalam periode yang lebih modern, Jatim kembali berubah karena kebijakan politik kolonial. Batavia (Jakarta) memang dijadikan pusat kekuasaan oleh Belanda, tetapi secara ekonomi Surabaya punya posisi yang sangat kuat.

“Jadi, itu kan ada perjalanan politik dan juga kebijakan politik yang kemudian menjadikan Batavia yang kemudian berubah menjadi Jakarta itu sebagai pusat pemerintahan ya, sebagai pusat kekuasaan di Indonesia. Tetapi sebenarnya sebelum abad ke-20, Surabaya itu posisinya lebih besar daripada Batavia,” ujarnya.

Bahkan saat memasuki abad ke-19, Jatim sudah menjadi pusat perkebunan tebu dan pabrik gula. Basundoro menyebut jumlah pabrik gula di seluruh Jawa Timur saat itu lebih dari 40, dengan konsentrasi terbesar berada di Karesidenan Surabaya.

Kawasan itu meliputi Surabaya, Sidoarjo, Mojokerto, hingga Jombang. Di wilayah ini, terdapat sekitar 19 pabrik gula yang menopang aktivitas ekonomi pada masa kolonial.

“Pada abad ke-18 pada tahun 1743. Sebagian wilayah pesisir utara Jawa Timur itu itu diserahkan ke VOC oleh Pakubuwono II oleh Raja Mataram. Nah itu yang kemudian menyebabkan Belanda itu kemudian menjadikan Jawa Timur itu menjadi pusat penjajahan mereka juga gitu ya. Yang kemudian mengubah kawasan Jawa Timur pada masa sistem tanam paksa itu, menjadi pusat perkebunan tebu dan pabrik gula,” ungkapnya.

Perkembangan pabrik gula juga yang akhirnya mendorong pembangunan jaringan kereta api. Prof Basundoro menjelaskan, rel kereta api dibangun untuk menghubungkan kawasan industri dan perkebunan itu, mulai dari Surabaya, Bangil, Pasuruan, Malang, hingga Banyuwangi.

Selain tebu, sejumlah kawasan di Jatim juga berkembang dengan komoditas lain seperti tembakau, kopi, dan cokelat, terutama di wilayah Malang Selatan dan Jember.

Masuk abad ke-20, industrialisasi di Jawa Timur semakin kuat dengan Surabaya sebagai pusatnya. Menurut Sejarawan Unair itu, industrialisasi itu berawal dari kebutuhan pabrik gula terhadap bengkel perbaikan mesin.

Bengkel-bengkel mesin kemudian tumbuh di sekitar kawasan Kalimas, Surabaya, dan berkembang menjadi pabrik besar. Salah satunya N.V. Brat yang banyak membangun jembatan dan pabrik gula di berbagai wilayah Indonesia.

Purnawan menyebut perkembangan itu menjadi embrio industri manufaktur di Surabaya. Dari proses tersebut, lahir kawasan industri pertama di Indonesia, yakni kawasan industri Ngagel.

“Jadi industrial estate pertama yang dibangun itu ada di Surabaya bukan di tempat lain. Nah ini menunjukkan bahwa Jawa Timur itu punya keunggulan yang luar biasa. Jadi di satu sisi punya basis pertanian yang hebat, tapi kemudian juga punya kawasan industri yang juga sangat strategis, yang membangun memproduksi berbagai peralatan rumah tangga dan sebagainya dan itu ada di Surabaya,” jelasnya.

Dengan sejarah panjang itu, Purnawan menilai posisi Jawa Timur sebagai kawasan strategis bukan sesuatu yang baru. Peran itu sudah terbentuk sejak masa kerajaan, diperkuat pada masa perkebunan kolonial, lalu berlanjut ke era industrialisasi modern.

“Menurut saya kalau kita ingin mempertahankan kejayaan Jawa Timur sebagai lumbung pangan, itu yang harus dipertahankan. Yang pertama, lumbung pangan harus dipertahankan. Kemudian yang kedua, karena industrialisasi itu adalah sebuah keniscayaan, maka Jawa Timur sebagai pusat industri itu juga harus dipertahankan,” tutupnya. (bil/iss)

Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Exit Tol Waru Awal Pekan

Mobil Tabrak Bangunan Semi Permanen

Cuaca di Pos Pantau Gunung Merapi Cerah

Posisi Mobil Tersangkut di Viaduk dari Belakang

Surabaya
Senin, 12 Oktober 2026
34o
Kurs