Senin, 19 Oktober 2026

Bupati Manggarai Akui Kewalahan Tangani Trauma Ribuan Pengungsi Gempa

Laporan oleh Billy Patoppoi
Bagikan
Herybertus Nabit (kiri) Bupati Manggarai saat memimpin rapat penanganan gempa. Foto: Pemkab Mangarai

Herybertus Nabit Bupati Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT), mengakui pemerintah daerahnya kewalahan menangani trauma psikologis ribuan warga yang masih mengungsi, akibat gempa bumi pada pertengahan Agustus lalu.

Menurutnya, keterbatasan sumber daya manusia menjadi kendala utama dalam memberikan layanan pemulihan psikososial kepada masyarakat terdampak gempa.

“Penanganan trauma kami harus akui tidak punya kemampuan sumber daya di situ,” kata Herybertus saat ditemui di Posko Tanggap Darurat Kabupaten Manggarai, Ruteng, Minggu (18/10/2026) malam yang dikutip Antara.

Herybertus mengatakan, Pemkab Manggarai membutuhkan dukungan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, perguruan tinggi, hingga lembaga swadaya masyarakat (LSM), untuk membantu pemulihan kondisi psikologis para pengungsi.

“Saat ini sejumlah perguruan tinggi dan lembaga swadaya masyarakat telah membantu dalam penanganan psikososial warga kami yang terdampak,” ujarnya.

Herybertus mengatakan layanan psikososial saat ini masih lebih banyak menjangkau anak-anak sekolah. Padahal, warga dewasa hingga lanjut usia (lansia) juga mengalami tekanan psikologis akibat gempa yang berdampak pada kehidupan dan perekonomian mereka.

“Situasi yang lebih rentan lagi dialami oleh kalangan lanjut usia karena mereka sudah tidak bisa lagi produktif dalam bekerja,” katanya.

Herybertus bahkan mengkhawatirkan munculnya risiko bunuh diri di kalangan lansia, akibat keputusasaan dan ketidakpastian masa depan setelah kehilangan sumber penghidupan.

“Hal ini tentu saja butuh penanganan khusus oleh orang yang profesional,” tegasnya.

Berdasarkan data Pemkab Manggarai, lebih dari dua bulan setelah gempa, sebanyak 1.301 warga masih mengungsi di 17 posko pengungsian. Selain itu, terdapat 7.091 warga yang mengungsi secara mandiri dengan mendirikan tenda di dekat rumah masing-masing.

Dari jumlah tersebut, Pemkab mencatat sebanyak 1.054 warga masuk kategori kelompok rentan. “Di antaranya 335 anak-anak, 265 warga lansia, 267 balita, dan 55 warga dengan disabilitas,” jelas Herybertus.

Untuk membantu mengatasi keterbatasan tenaga pemulihan psikososial, sejumlah lembaga mulai memberikan pelatihan kepada relawan lokal. Dini Widiastuti Direktur Eksekutif Plan Indonesia mengatakan, pihaknya telah menjalankan tiga tahap pelatihan agar layanan pendampingan psikologis bisa menjangkau lebih banyak masyarakat terdampak.

“Tahap pertama kami sudah melatih 20 trainer yang sudah bergerak membantu di 62 titik. Tahap dua kami sudah melatih 32 orang relawan, dan tahap tiga sudah 42 orang,” jelasnya.

Menurut Dini, para relawan yang telah mendapat pelatihan kini diterjunkan ke berbagai wilayah di Manggarai untuk membantu pemulihan psikososial, terutama bagi anak-anak.

“Mereka yang kami latih telah bergerak ke berbagai penjuru Manggarai untuk menangani pemulihan psikososial warga terdampak gempa, khususnya anak-anak,” jelasnya.

Sementara itu, Wensiaus Sedan Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Manggarai mengatakan, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) juga akan mengirimkan 70 pelatih utama atau master trainer.

“Mereka akan melatih guru-guru agar bisa melakukan pemulihan psikososial para siswa yang terdampak gempa,” kata Wensiaus.

Nantinya, guru yang telah mendapat pelatihan akan meneruskan pengetahuan tersebut kepada rekan-rekannya di sekolah. Dengan cara itu, penanganan trauma psikologis diharapkan bisa menjangkau lebih banyak siswa terdampak gempa.

Sementara untuk kelompok dewasa dan lansia, Herybertus berharap dukungan berbagai pihak dapat diperluas agar pemulihan psikososial tidak hanya terpusat pada anak-anak sekolah. (ant/bil/ham)

Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Eits, Miring

Truk Muat Kol Terguling

Exit Tol Waru Awal Pekan

Mobil Tabrak Bangunan Semi Permanen

Surabaya
Senin, 19 Oktober 2026
33o
Kurs